Tampilkan postingan dengan label Koleksi Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Koleksi Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Maret 2012

PENGALAMAN YANG MEMBAHAS LINGKUNGAN


Pada liburan dua minggu yang lalu, hal yang menarik yang saya lakukan ialah, saya mengikuti kegiatan kemah pramuka di jaba pura alas angker, tepatnya di desa kerta, payangan, gianyar , Tempat ini sungguh menarik dan berkesan bagi saya,karena merupakan pengalaman persama saya melahkukan kegiatan perkemahan.Kemah ini berlangsung selama tiga hari dua malam dimulai pada tanggal 27desember sampai 29 desember .

          Di hari perkemahan pertama,saya dan teman – teman saya melahkukan kegiatan persiapan kemah ,seperti mencari tempat kemah dan mendirikan tenda,setelah itu saya dan  teman  -teman saya yang kelas  X melahkukan mengikuti kegiatan penggodoan untuk mencari tingkatan yang lebih tinggi yaitu Bantara.dalam kegiatan ini kami melahkukan kegiatan mencari jejak dan melahkukan hal – hal yang aneh demi mementapkan diri kami.Dalam pencarian jejak saya melihat lingkungan sekitar Kerta dan saya pun tahu dan mulai mengenal daerah di desa Kerta ini,Seperti mayoritas penduduknya adalah petani ,terlihat dari kegiatan pertanian dan lingkungan di desa ini.

          Di hari kedua,saya dan teman – teman saya mengunjungi Cagar Budaya Sekar Jagat,yang merupakan tempat penjual bunga terbanyak no 2 di asia tenggara,dalam perjalanan saya di sana saya melihat beragam bunga yang belum pernah saya lihat,seperti pisang-pisangan berwarna pink dan bunga-bunga yang lain nya,dengan adanya Cagar Budaya tersebut ,penduduk di sekitar daerah sana terbantu dengan adanya tempat untuk mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup warga di Cagar Budaya tersebut,Selain dapat membantu mensejahterakan masyarakat disana,Cagar Budaya tersebut juga ikut membantu menjaga Bumi kita ini.

Di hari ke tiga,kami mengunjungi tempat pemanfaatan kotoran hewan untuk digunakan sebagai penggantikan minyak tanah dan gas elpiji,disini saya melihat dan mulai tahu bahwa limbah seperti kotoran hewan pun juga dapat di manfaatkan menjadi hal yang berguna.Dengan adanya pemanfaatan limbah kotoran hewan ini,warga di saya,khususnya yang mempunyai biogas menjadi terbantu dalam menghemat biaya membeli gas elpiji.Selain manfaatnya sebagai penganti gas elpiji,biogas juga sangat berguna untuk menghemat bahan bakar minyak yang kemungkinan nanti bisa habis.Dan setelah kami selesai melihat pengelolaan biogas tersebut kami kembali ke perkemahan dan melanjutkan acara berikutnya,dan setelah semua acara selesai saya dan teman-teman saya kembali ke sekolah lalu kembali ke rumah masing-masing.

Itulah pengalaman saat liburan dua minggu yang sangat menarik bagi saya,dan pelajaran yang saya dapat dari pengalaman tersebut adalah belajar untuk mencintai alam dan berbagi meskipun dalam keadaan sulit sekalipun.


MENJAHILI SI JAHIL


                   Dedi adalah seorang anak yang masih duduk di kelas dua SD, keluarganya  adalah keluarga  yang hidupnya berkecukupan,dan ia dikenal sebagai anak yang bandel dan senag menjahili teman - temanya ,selain itu ia juga sering dimarahi oleh guru dan orangtuanya karena ia sering mencuri barang milik temanya dan ia juga tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan oleh gurunya.
                   Pada saat jam olahraga Dedi dan teman – temanya disuruh untuk lari oleh Pak Beno.Pada saat Adin telah lelah karena berlari,Dedi memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil uang di sakunya Adin,dan Adin tidak mengetahui hal itu karena ia sedang kelelahan,tetapi Amir melihat hal tersebut dan Amir berkata kepada Dedi “Apa yang kamu ambil dari sakunya Adin?,pasti kamu mencurikan!”
“He Mir jangan sembarangn menuduh aku ya”,jangan-jangn kamu yang mengambil uang dari sakunya Adin “.Lalu Dedi mengadu kepada Pak Beno bahwa Amir menuduhya telah mengambil uang di  sakunya Adin,lalu tanpa basa-basi Pak Beno menghukum Amir keliling lapangan,akibat dituduh memfitnah oleh Dedi.Tetapi Adin tidak percaya kepada dedi yang suka mencuri dan ia lebih percaya kepada Amir.
Akibatnya Adin yang uang jajanya dicuri oleh Dedi tidak Punya cukup uang untuk membeli makanan di kantin,untungnya Kevin yaitu kakakya Adin memberi sedikit uangnya kepada Adin.
                   Besokya Adin mengajak Amir,Dedi ,Budi dan Kevin untuk bermain layang-layang di bersama di rumahya,ketika layang-layang mereka sudah terbang ,Adin mengajak Amir,Budi dan Kevin unuk membeli benang dan menyuruh Dedi untuk menjag layangan mereka.Tetapi itu hanya kedoknya Adin saja,sebenarnya Adin hanya bermaksud untuk menguji si Dedi,apakah benar ia telah mengambil uang milik Amir.Lalu Adin,Amir ,Budi ,dan Kevin bersembunyi di sebuah semak – semak sambil mengamati si Dedi yang disuruh untuk menjaga layang-layang mereka.
Lalu dedi menengok ke kanan dan ke kiri layaknya seseorang yang ingin mencuri,kemudian ketika ia telah merasa aman ia lalu memutuskan layang-layang milik Budi yang dia anggap paling bagus dan yang di ingginkan,tetapi ia tidak menyadari bahwa dirinya telah diamati oleh teman-temanya,lalu setelah layang – layang tersebut putus ia mengejar layang-layang tersebut dan ia berhasil mendapatkanya.Dan ketika Dedi kembali ia berjalan layaknya seorang yang sangat berjasa.
Lalu Budi yang sudah tau semuanya berpura – pura tidak tau, dan ia berkata kepada Budi :
“Di ada apa dengan layang-layang ku kenapa kamu yang membawanya ?”
Lalu Dedi menjawab “He Budi kalau bukan karena aku pasti layang – layang mu sudah hilang entah kemana”
“Emangnya kenapa dengan layangan ku ?”,tanya Budi
Lalu Dedi menjawab sambil menyombongkan dirinya“Layangan mu tadi benangnya pustus  untungnya ada aku tadi yang mendapatkanya berterimakasilah kepadaku”
Kalau gitu terimakasi ya di dan layangan ini untukmu saja sebagai tanda terimakasihku kepadamu”kata Budi
Lalu dedi membawa layang-layang tersebut ke rumahnya,setelah dedi pulang ke rumahnya Adin Amir ,Budi dan Kevin merencanakan untuk si Dedi esok hari,agar dia tidak mengulangi perbuatanya itu lagi.

                   Besoknya Budi mengajak si Dedi untuk bermain ke rumah Adin,Dedi tidak mengetahui bahwa di sana telah menanti jebakan untuk dirinya.Kemudian ketika Dedi hendak masuk ke rumah Adin ia mendadak terjatuh karena kakinya tersangkut  tali yang sudah disiapkan untuk menjabaknya,kemudian Amir dan Kevin menyiram Dedi  dengan air perasan enceng gondok yang bisa menyebabkan gatar jika terkena pada kulit,setelah itu Dedi pun merasa gatal di sekujur tubuhnya ketika ia hampir menangis ,Adin memberinya obat gatal palsu yang juga terbuat dari perasan enceng gondok,setelah mengoleskan obat tersebut Dedi pun merasa lebih gatal dari sebelumnya dan akhirntya ia pun menengis,lalu teman-temanya meminta Dedi untuk mengakui semua perbuatanya ,dan teman temanya memaafkan perbuatan Dedi tersebut .Setelah Dedi mengakui semua perbuatanya dan meminta maaf kepada semua temanya yang sudah ia jahili, merekapun memberi obat gatal yang sebenarnya kepada Dedi.
                   Kemudian mereka melaporkan semua perbuatan Dedi kepada orangtuanya,Dedi pun dimarahi habis-habisan oleh orangtuanya,dan Dedi pun berjanji kepada teman-teman dan orangtuanya tidak akan mengulangi perbuatanya tersebut lagi.

Sabtu, 14 Januari 2012

Benjolan Cerpen Harry Pratama

Sampai lima bulan aku diamkan saja.
Sekarang aku sudah tidak tahan lagi. Benjolan
itu semakin terlihat besar dan melebar, dan
parahnya semakin mengganggu aktifitas
sebagai pejalan kaki. Benjolan itu terasa sangat
menyakitkan jika telapak kakiku menyentuh
permukaan bumi.
Aku memutuskan berkunjung ke sebuah
rumah sakit swasta di hari kedua lebaran
bersama bibiku, seorang perawat puskesmas.
Kami langsung menuju ke ruang Unit Gawat
Darurat.
Pikiranku langsung terlempar dalam
kenangan saat aku kelas enam SD waktu mencium
bau obat yang menyengat dalam ruangan ini. Suatu
hari sepulang sekolah aku langsung menuju ruang
Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit umum
karena sakit perut yang membuatku tidak bisa
berjalan, hanya bisa mengerang.
Semula aku masih bisa menahan rasa takut
berada di sekeliling orang yang terbaring di atas
kasur tipis beralaskan seprai putih, sampai tibatiba
segerombolan perawat berpakaian putih
mendorong dengan cepat sebuah kasur beroda
dan dihentikannya tepat di sebelah kasurku. Di
atasnya terbaring pria botak berlumur darah. Dia
tidak bergerak sama sekali. Mulutnya menganga,
mata terpejam menghadapku. Kata orang yang
mengantar, orang di sebelahku ini kecelakaan
sepeda motor.
Meskipun hanya dalam hitungan detik tirai
pemisah langsung ditutup, aku sudah terlanjur
melihat. Darah di sekujur muka dan badan
menambah seram ruangan besar yang gelap itu.
Aku menyumpah dalam hati tidak akan pernah
mau terbaring di kasur rumah sakit lagi. Tapi
aku mengkhianatinya.
Aku hanya bisa mempertahankan sumpahku
sampai hari ini saja. Resepsionis yang menunggu
meja di depan ruang UGD menyambut kami.
"Selamat pagi, bisa kami bantu?"
"Nih, mau ngangkat mata ikan, ujar bibiku
sambil menunjuk kakiku."
"Oh, silakan tunggu di sana ya. Ruang
tindakannya sedang ada pasien," balas resepsionis
mengarah tangannya ke sebuah kasur kosong
tidak jauh dari meja yang ditungguinya, lalu
jemarinya bergeser menunjuk sebuah ruang yang
berada persis di depan kasurku kelak.
Yang membuatku sedikit lebih tenang, ruang
ini terasa lebih cerah karena cahaya sepertinya
tidak takut untuk masuk ke dalam. Keramik putih,
dindingnya bersih, ruangan tidak terlalu besar,
hanya ada lima deret kasur tipis, perban, obatobatan
cair, plester dan obat-obatan yang aku tak
tahu lagi apa namanya. Pasien di sebelahku pun
bukan korban kecelakaan hanya seorang anak
kecil. Aku tidak tahu dia sakit apa, tapi yang jelas
aku mendengar suara batuknya yang berat dari
balik tirai dan sebuah kursi roda disiapkan di
samping kasurnya.
Dalam masa penantian eksekusi, dari
atas kasur aku melihat pintu ruang tindakan
yang terbuat dari kaca warna putih terbuka.
Seorang perawat, perempuan, mengenakan
sarung tangan karet keluar membawa sebuah
botol pispot berisi cairan berwarna kuningkecoklatan
menuju pintu yang aku lewati tadi.
Lalu dalam ruangan itu kulihat kakek-kakek,
ia jalan tertatih-tatih turun dari tangga kasur
menuju kursi roda dituntun oleh pemuda
berbadan besar, sepertinya anak si Kakek. Kakek
ini semakin tampak tidak berdaya saja karena
selang infus menempel di lengan kirinya.
....
Sumber : Pikiran Rakyat 22 Desember 2007

Oleng Karya Wisran Hadi

Pagi itu Guru Kito berdiri di pinggir lapang
sambil melecut-lecutkan lidi ke kakinya sendiri.
Itulah tanda bahwa dia marah karena ada murid
yang melanggar peraturan perguruan. Muridmurid
pun sudah tahu akan tanda itu. Mereka
harus berkumpul dan tentulah akan ada
hukuman yang dijatuhkan. Setiap murid punya
dugaan bermacam-macam ter hadap hukuman
atau siapa yang akan dihukum. Mungkin saja
Guru Kito akan menjatuhkan hukuman kepada
Kaje, karena kemarin sore tidak masuk dalam
pelajaran bahasa Inggris. Mungkin juga Oon dan
Kawe karena keduanya kedapatan merokok di
belakang asrama. Bisa jadi juga Ismet, karena
tidak ikut bersembahyang kemarin. Berbagai
kemungkinan bisa saja terjadi.
Setelah lonceng dipukul 5 kali oleh Ivan
yang menjadi piket penjaga waktu, semua
murid bergegas datang ke lapangan, tempat
biasanya mereka dikumpulkan menerima pe rintah,
pengumuman-pengumuman, tegur an, hukuman,
serta berita-berita gembira dan ber bagai kelucuan
yang terjadi. Lapangan itu merupakan
tempat bagi persoalan bermuara.
"Malapetaka," bisik Kawe kepada Oon
sambil berjalan bergegas menuruni jalan di
pinggir kolam.
"Ya, bagaimana lagi. Memang salah kita.
Kita harus menerima hukuman." jawab Oon
pasrah.
"Apa Daroji benar-benar telah me nguburkan
bulunya?" tanya Kawe.
"Entahlah," jawab Oon menggelengkan
kepala.
"Mungkin Guru Kito menjumpai bulunya
kemarin sore. Itulah sebab kita dikumpulkan
pagi ini," kata Kawe menyesal.
"Celaka, mana Daroji?" tanya Oon.
"Itu. Lihat, dia pura-pura tidak bersalah
saja dan berlari-lari kecil karena merasa dilihat
Guru Kito. Ambil muka. Nanti dapat muka
beruk, baru tahu dia." jawab Kawe sambil
menunjuk ke arah Daroji yang bergegas menaiki
tebing menuju lapangan.
Semua murid sekarang sudah ber kumpul.
Mereka berbaris dan diam me nunggu apa yang
akan terjadi. Guru-guru pun sudah berdiri
dengan tertib. Guru Kito memerhatikan setiap
murid lalu berjalan ke depan barisan mereka
sambil tersenyum.
"Kalian pernah mendengar cerita Cindua
Mato?" tanya Guru Kito dengan ramah sekali.
"Sebuah cerita rakyat Minangkabau yang
sangat terkenal. Kisah seorang raja perempuan
yang mem punyai binatang piaraan yang sangat
keramat?" tanyanya.
"Belum Guru," jawab beberapa murid
tidak serempak.
"O, pantas kalian tidak tahu apa itu
kinantan. Kinantan adalah nama seekor ayam
jantan ke ramat piaraan raja perem pu an itu. Di
per guruan kita juga banyak kinantan. Malam
kemarin salah seekor kinantan terbang entah
ke mana. Mungkin terbang dengan ke kedai
di seberang sana, kemudian berganti dengan
sebungkus rokok atau mungkin menyuruk ke
dalam perut manusia," lanjut Guru Kito. Beberapa
murid tertawa.
"Ayam jantan putih itu hilang, Guru?" tanya
Daroji lantang.
Semua memandang Daroji. Daroji dengan
tenang tersenyum membalas pandangan kawankawannya.
Guru Kito memandang sesaat kepada
"Pahit? Aneh juga ya. Goreng ayam terasa
pahit. Apa waktu itu kamu tidak sakit perut
Daroji?" tanya Guru Kito lagi. Semua murid
meledak tawanya. Daroji pucat pasi karena
Guru Kito langsung menudingnya.
"Kalau saya tanya siapa yang telah mencuri
kinantan itu dan meng goreng nya tengah malam,
pasti semuanya tidak ada yang mengaku.
Ya, kan? Sebab, kalau pencuri mau mengaku,
pasti semua pen jara yang ada di dunia ini akan
penuh dengan pencuri. Jadi, saya tidak akan menanya
kan siapa pencuri nya," kata Guru Kito.
"Saya meng umum kan, jika sampai besok pagi
tidak seorang pun yang mau mengaku, siapa
yang mencuri kinantan itu, semuanya dihukum.
Karena kalian semua telah berse pakat dengan
pencuri untuk tidak mengaku, hukumannya
adalah me ngerja kan sawah kita di lereng bukit
sebelah sana sampai dengan selesai ditanami
benih," kata Guru Kito sambil menunjuk ke
arah persawahan. Semua murid bergumam dan
ngeri, karena mereka tahu sawah itu banyak
lintahnya.
Setelah apel pagi itu dibubarkan, semua
murid pergi ke kelas. Sepanjang jalan mereka
saling berbisik dan saling tuduh. Mereka yang
terlibat dalam pencurian mengadakan diskusi
kilat di bawah batang durian. Membicarakan
apakah mereka akan mengaku bersama-sama
atau menunjuk salah seorang saja sebagai wakil
mereka. Akhirnya mereka sepakat tidak menga
ku walau apapun hukum an yang akan dijatuh
kan. Namun malamnya, Sasmita diam-diam
menemui Guru Kito dan memberitahu bahwa
yang mencuri Kinantan itu adalah Kawe, Oon
bersama kawan-kawannya yang lain, sedangkan
yang men jadi otak pen curiannya Daroji.
Besoknya Guru Kito kembali me ngumpul -
kan murid-murid seperti kemarin. Setelah
semuanya lengkap hadir, Guru Kito maju ke
tengah dengan berang.
"Sekarang saya sudah tahu yang men curi
Kinantan itu. Para pencuri dan pemakan ayam
curian akan dihukum berat," kata Guru Kito
dengan keras. Murid-murid heboh dan saling
ber pandangan.
Daroji.
"Bolehkah seekor ayam dimakan?" tanya
Guru Kito.
"Tentu saja boleh, Guru." jawab muridmurid.
"Enakkah kalau daging kinantan digoreng
tengah malam?" tanya Guru Kito lagi, muridmurid
tertawa.
"Enak sekali, Guru," jawab murid sambil
memandang ke arah Daroji. Daroji seakan tidak
memerhatikan mereka.
"Kalau ayam itu ayam curian, apakah juga
enak dimakan?"
"Pahit Guru," jawab Daroji tiba-tiba. Semua
menoleh kepada Daroji.
"Sasmita, ke depan." kata Guru Kito se telah
heboh murid-murid mereda. Semua diam.
Sasmita maju ke depan barisan.
"Kau tahu kenapa dipanggil ke depan?"
"Tidak, Guru Kito."
"Berbalik. Lihat teman-temanmu." Sasmita
patuh. Kini dia berdiri menghadap kawankawannya
dan membelakangi Guru Kito. Semua
murid berbisik dan gelisah.
"Guru Kito. Boleh saya bertanya?" Kawe
bertanya.
"Apa?" balas Guru Kito.
"Kenapa Sasmita yang dihukum. Apakah
memang terbukti dia mencuri?"
"Bagus, jadi kamu membela temanmu ini,
ya?"
"Ya, Guru. Guru Kito harus me lakukan
pe nye lidikan lebih dulu, siapa sebenarnya yang
bersalah."
"Apa kamu mau membela seorang pengkhianat?"
Murid-murid terkejut dan saling berhanya
mau me nyelamatkan dirinya sendiri, dia
akan lebih berbahaya daripada seorang pencuri
ayam. Jika ia jadi pemimpin bangsa ini kelak,
dia juga akan mudah mengkhianati bangsanya
untuk kepentingan dan keselamatan dirinya
sendiri. Jika ia jadi imam kelak, dia akan mudah
pula mengkhianati jemaahnya. Jadi, paham kalian
kenapa seorang pengkhianat harus dihu kum
berat?"
"Paham Guru," jawab murid-murid lesu.
Menggigil tubuh Sasmita men dengar nya.
Murid-murid yang lain menundukkan muka, sedih,
karena Sasmita yang selama ini mereka kenal
sebagai anak yang rajin dan pandai kini dituduh
sebagai peng khianat hanya karena seekor ayam.
Emridha, guru muda yang baru sebulan
mengajar di perguruan itu ge lisah. Dia tidak
setuju dengan putusan Guru Kito, tapi tidak
berani memrotes apalagi di tengah muridmurid
dan guru-guru yang lain. Sebagai guru
baru, Emridha tidak merasa pantas untuk
memrotes begitu saja.
Sasmita harus melaksanakan hukum an.
Dengan berat hati disandang nya cangkul me nu ju
sawah di lereng bukit itu. Dia harus mencangkul
seminggu lamanya. Namun, ketika Sasmita menuju
sawah. Emridha memberani kan diri juga me nemui
Guru Kito.
"Bagaimana Emridha, ada yang mau ditanyakan?"
tanya Guru Kito tersenyum, seakan
tahu yang hendak dikatakan Emridha. Emridha
mengangguk. "Kau tidak sampai hati menerima
hukuman yang begitu berat buat Sasmita?"
tanya Guru Kito lagi. Emridha mengganguk. "Itu
belum apa-apa Emridha. Orang pandai kalau
berkhianat lebih buruk akibatnya daripada
seorang pencuri. Perguruan kita ini hancur
karena pengkhianatan. Negara kita porak
poranda karena pemimpin-pemimpinnya berkhianat
kepada rakyatnya sendiri."
Emridha mengangguk dan terus meng ikuti
Guru Kito. Setelah sampai di bawah pohon
mahoni yang rimbun, Guru Kito me lanjutkan
pembicara annya sambil melihat seorang guru
lain bersama beberapa murid mulai menyam bit
rumput di bawah kolam.
bisik. Mereka terkejut karena tidak tahu apa
maksud Guru Kito.
"Sasmita malam tadi datang ke tempatku
dan mengadukan siapa yang mencuri kinantan
itu."
"Kurang ajar." teriak murid-murid.
"Nah, kalian saja benci kalau seorang
temanmu berkhianat. Begitu juga Guru, begitu
juga orang lain, begitu juga bangsa kita. Betapa
pun pandai dan pintarnya seseorang, tapi jika
di dalam dirinya sudah bersarang sifat khianat,
"Lihat mereka, Emridha. Begitu cara kita
di sini mengajarkan agama. Ambil sabit, pangkas
rumput, bersihkan alam sekeliling. Membersihkan
ling kungan adalah ajaran agama. Dalam
ajaran agama kita tidak perlu banyak bicara,
tetapi harus banyak mem berikan contoh."
"Guru Kito." kata Emridha mem beranikan
diri. “Perguruan ini kan sebuah per guruan
agama, sebagaimana juga pondok pesantren.
perguruan ini kan bukan perguruan politik.”
"Itulah bedanya perguruan di sini dengan
pondok pesantren yang pernah kau masuki.
Di pondok pesantren orang belajar agama, di
per guruan ini kita membentuk pribadi muslim.
Buat apa pengetahuan agama segudang, tapi
tidak punya sikap dan kepribadian sebagai
seorang yang ber agama? Kau lihat keadaan
masyarakat kita saat ini. Semua orang mengaku
dirinya orang-orang beragama, tapi kelakuan
dan per buatannya tidak mencer minkan bahwa
mereka orang-orang beragama."
"Tapi apakah Sasmita juga mengerti
dengan semua yang Guru Kito katakan itu?"
"Dia harus dapat memahami semua,
murid harus memahami. Begitu juga guru-guru
yang lainnya."
Kuala Lumpur, September 2001
Dikutip dari Majalah Horison, November 2003

Labirin Cahaya Detti Febrina

Rona-rona lembut menyapa. Merah muda, biru,
hijau pupus, kuning yang teduh, ungu lembut.
Indah semata membuai mata dan jiwa. Kurasakan
jasad ini melayang-layang. Lambat, namun terus
beranjak sesenti demi sesenti. Seakan ada energi
yang menarik-narik untuk mendekat.
Jangan-jangan, aku tak lagi berpijak di bumi.
Jangan-jangan. … Tempat apa ini gerangan? Begitu
damai dan menenangkan. Lorongnya panjang
berkelok-kelok. Cahaya berpendar dari dinding,
langit-langit bahkan lantai yang tak tersentuh oleh
kaki telanjangku. Menentramkan, bak tersimpan
beribu neon di baliknya. Benderang namun tak
menyilaukan.
Sumber: www.polewalimandarkab.go.
Gambar: Ada beragam peristiwa yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
48 Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA/MA Kelas X
Lalu ketentraman menyergap sekujur pori.
Perlahan menyelusup hingga sumsum dan jantung.
Bagaimana bisa kujelaskan keindahannya. Sungguh
aneh, aku tak merasakan sebersit pun rasa takut di
tempat seasing ini. Aku masih bergerak melayanglayang.
Tak ada ke siapa pun, maka
kucoba bersuara, “Hei!” Entah mengapa yang
terdengar hanya desau. Aku coba teriak. “Di mana
aku berada?!” Entah mengapa yang tertangkap
telinga hanya bisikan.
Di sebuah kelok, pendarnya menguat. Masih
menentramkan. Dan, hatiku tercekat saat paras indah
itu menghadang. Senyumnya begitu menawan.
Alhamdulillah, akhirnya, kujumpa makhluk lain di
labirin ini. Manusiakah ia, atau bidadari surga?
Bidadari itu tersenyum. Binar matanya bagai kejora.
Wajahnya begitu putih dan teduh. tercium wangi
seribu bunga ketika tangannya merengkuh badan
gemetarku. “Siapa kau?”
Bibir nan serupa kelopak mawar itu bergerak.
Namun tiada terdengar suara. Lalu kurasakan
bibirku bergerak mengikuti gerak bibirnya, “A-isyah?”
Mataku menghangat. Bulir beningnya mengalir tak
tertahankan.“Aisyah radhiallahu anha?”
Dia mengangguk. “Aiyah kekasih Baginda Muham-
mad? Istri Rasulullah?”Dia mengangguk lagi.
Masih tersenyum. Bulir bening dari mataku menetes
perlahan saat ia lepaskan rengkuhannya. Lalu tangan
kanannya mengembang seperti mempersilakanku
melanjutkan perjalanan. Aku kembali beringsut,
melayang sesenti demi sesenti tanpa sekejap pun
kulepaskan pandang darinya. Bahagia bertalu-talu
menyesaki ruang hati. “Ibunda Aisyah…,” suaraku
kembali hanya berupa lirih angin. Sampai akhirnya
senyum indah itu hilang ditelan kelokan.
Pendar cahaya masih membimbingku. Masih
menentramkan. Lalu kurasakan lorong warna-warni
lembut berakhir di sebuah ruangan yang dari dinding
ke dindingnya berjarak ribuan meter. Mungkinkah
ini akhir dari labirin penuh cahaya?
Aku tiba di hadapan beberapa pintu raksasa yang
juga berpendar cahaya. Dan aneh, semua berbisik,
“Bukalah… bukalah… bukalah….” Bulir-bulir
bening kian deras mengalir. Lalu sebuah pintu
terbuka sebelum sempat tersentuh tangan. Lagilagi
kekuatan asing menghisapku untuk perlahan
mendekat ke tengah pendar cahaya putih yang
bergelinyaran dari segala penjuru. Ruang bagai
tak berbatas. Semua hanya cahaya. Cahaya-cahaya
warna putih yang lembut dan bertumpuk-tumpuk.
Belulangku melemas bagai tersiram asam sulfat,
ketika pendar-pendar cahaya itu perlahan kian
menampakkan bentuk. Melebihi perjumpaan dengan
Ibunda Aisyah, kali ini dadaku begitu sesak oleh
kebahagiaan. Kebahagiaan yang bahkan menjalar
mengikuti aliran darah dan terus mengalir tanpa
henti.
Oh, sungguh sempurna keindahan ini. Mas Awan,
andai kau di sini. Subhanallah, Mas, di sini indah
sekali. Terasa tubuhku bagai dipeluk jutaan bintang.
Aku merintih, “Allah, Engkaukah itu, Allah?” Air
mataku tak tertahankan. Subhanallah. Maha Suci
Allah yang mengizinkanku mendapati perjalanan
ini. Dan, semua cahaya yang memenuhi ruang
dan waktu bagai berebut memelukku.“Ya, Allah,
ampuni aku. Ampuni aku,” rintihku tanpa henti.
Segenap khilaf dan kesalahan berkelebatan di
pelupuk mataku yang basah. Cahaya-cahaya masih
bersiar-siur. Cahaya di atas segala rupa cahaya.
“Ampuni seluruh dosaku, Ya Robb.” Kakiku lemas.
Aku ingin bersimpuh, namun tak jua kumampu
melakukan apapun. Aku hanya terpaku seraya
merintih, memohon, menghiba. Lalu, di bawah tahta
bercahaya itu, sesosok tegap dan rupawan perlahan
menampakkan diri. Sambil mengulurkan tangan,
senyumnya menyongsongku. “Kau…,” suaraku
nyaris hilang. Wajah rupawan itu bagai membelaiku.
Suaranya indah melebihi suara terindah yang pernah
kudengar. “Ya, ibundaku sayang.” Aku bergerak
ingin meraih tangannya, namun tak terraih. “Aku
putramu yang belum sempat kau lahirkan ke dunia.”
Tangisku pecah menjadi isakan hebat. Belum habis
takjubku, tiba-tiba kekuatan itu kurasakan tak lagi
Bab 5 Peristiwa 49
Inikah sebentuk kehidupan yang kutandai, sesuai
perkiraan dokter, seharusnya lahir enam bulan
yang akan datang? Lalu, dunia serasa berguncang.
Setelah itu menyusul luruh gumpalan merah segar
yang kelima, keenam, hingga entah yang keberapa.
Darah segar mengucur-ngucur di sela-sela paha. Mas
Awan menangkap tubuhku yang lunglai, selebihnya
gelap. Selanjutnya, yang kuingat hanya perjalanan
dalam labirin cahaya.
menghisap. Perlahan ia malah mendorongku keluar
menuju pintu raksasa. “Ya Allah, jangan tinggalkan
aku.” Namun, cahaya itu kurasakan kian jauh.
Wajah rupawan itu juga perlahan memudar di balik
lapisan-lapisan kabut. “Peluk aku, ya Allah. Jangan
tinggalkan aku.”
Aku tersedu-sedu saat lorong bercahaya warna merah
muda, biru, hijau, kuning lembut menyambutku
kembali. Kelokan demi kelokan membawa tangisku
bagai gerimis pagi. Aku merasa tercerabut. Masih
melayang-layang. Bibirku hanya menyebut Allah
dan Allah.
Diselimuti kabut, eternit putih serta dua lampu neon
di kanan-kiri menyergap pandangan. Samar-samar
kulihat gorden hijau, juga tercium bau obat-obatan.
Apakah benar itu suara sedu sedan? Kurasakan
kemudian genggaman erat di jemariku yang masih
lemas. Dan, suara yang kukenal itu. “Alhamdulillah, ”
bisiknya. Tanganku perlahan dibimbing ke dadanya.
Genggamannya makin erat. Masih samar, kudapati
wajah tirus yang begitu kukenal itu, Mas Awan,
suamiku. “Semua sudah selesai, sayang. Kuretnya
sudah selesai,” bisiknya lagi. Kulihat ia berusaha
sekuat tenaga menyembunyikan kesedihan. Namun,
sungguh kau pemain sandiwara yang buruk, Mas.
Segalanya kemudian berkumpul menjadi potonganpotongan
peristiwa. Saat tepat tengah malam, saat
gumpalan merah segar pertama jatuh di lantai kamar
mandi. Lalu gumpalan merah segar yang kedua,
ketiga, keempat, dan seterusnya.
Dan, satu gumpal kecil seukuran jempol kaki
kemudian begitu menyita perhatianku. Gumpal kecil
yang selanjutnya kuraih dengan tangan bergetar.
Ia tampak menonjol, karena berwarna putih di
antara gumpalan-gumpalan segar merah darah. Ada
sepasang mata berbentuk bintik di kanan dan kiri.
Sepasang bakal tangan dan sepasang bakal kaki,
serta seutas tali pusar yang juga berwarna putih.
“Kamu mengigau menyebut Allah dan surga.”
Kurasakan air mataku masih meleleh.
“Benarkah?” Berulangkali ia menyeka air di pipiku.
Dan berulangkali pula air itu menganak sungai.
“Belum saatnya kamu berjumpa surga, Jeng,” katakata
Mas Awan kudengar tercekat di tenggorokan.
“Ina dan Rayya masih butuh ibunya.” Ina dan
Rayya? Aku masih menangis. Namun, kali ini
terbayang wajah kedua bidadari kecil itu. Ya, aku
memang kehilangan sesuatu yang telah melekat
selama tiga bulan dalam rahimku. Tapi kau benar,
Mas. Masih ada dua makhluk Allah yang hidup dan
sehat yang butuh tanggung jawabku.
Masih nanar pandanganku menatap lelaki yang
tengah sibuk mengusapi air di sudut matanya itu.
Mas Awan, suamiku, kau juga amanahku.
Bandar Lampung, Januari 2008.
Sumber: Republika, Minggu, 09 Maret 2008

Mbah Danu

Wajah kasar-kasar seperti tengkorak, kulitnya seperti belulang,
pipinya selalu menonjol oleh susur tembakau yang ada dalam
mulutnya, jalannya tegak seperti maharani yang angkuh. Di Rembang
sekitar tiga puluhan ia lebih terkenal daripada Pendeta Osborn pada
pertengahan tahun 1954 di Jakarta karena prestasinya menyembuhkan
orang-orang sakit secara gaib. Ditinjau dari sudut tertentu cara
pengobatan Mbah Danu adalah rasional. Titik pangkalnya adalah suatu
anggapan yang logis. Mbah Danu menegaskan, bahwa orang yang sakit
”didiami” oleh roh-roh yang jahat, karena itu cara satu-satunya untuk
menyembuhkan dengan menghalaukan makhluk yang merugikan
kesehatan itu. Si Nah, gadis pelayan pada keluarga Pak Jaksa (pensiun)
telah sebulan sakit demam. Keadaannya makin lama makin payah.
Matanya kelihatan putihnya saja, mulutnya berbuih dan ia
mengeluarkan bunyi-bunyi binatang, kadang-kadang meringkik seperti
kuda, kadang-kadang menyalak, mengeong, berkaok-kaok, dan kalau
sudah mengaum, anak-anak dan perempuan-perempuan serumah dan
tetangga-tetangga yang bertandang semua lari terbirit-birit seolah-olah
percaya, bahwa satu saat kemudian Nah akan menjelma jadi macan
gadungan.
Menurut kabar-kabar yang cepatnya tersiar hampir seperti berita
radio, Mbah Danu sedang turne. Rutenya adalah Lasem, Pamotan,
Jatirogo, Bojonegoro, Tuban, Padang, Cepu, Blora, dan kembali ke
Rembang. Kini ia disinyalir sudah ada di Blora, jadi sudah hampir
pulang. Dan benar, ketika Nah mengeong-ngeong seperti kucing
kasmaran, Mbah Danu datang membawa koper besi yang sama
cantiknya dengan yang punya. Jauh sambil membaringkan dan
menyelimuti Nah dengan penuh kasih sayang. Sebentar ia memijit-mijit
kepala Nah, kemudian memercikkan ludah sedikit dari mulutnya pada
dahi si sakit. Setelah itu ia berdiri dan keluar untuk meminum kopinya.
Ketika Mr. Salyo Kunto, salah seorang menantu Pak Jaksa bersama
istrinya mengunjungi mertuanya, beberapa hari sesudah kedatangannya,
Nyonya Salyo sakit kepala dan pegal-pegal tubuhnya. Bu Jaksa,
sesuai dengan tradisi, segera menyuruh panggil Mbah Danu.
”O, ada sedikit angin jahat di dalam tubuh Raden Ayu,” kata Mbah
Danu setelah mendengarkan gejala-gejala penyakit dari mulut Nyonya
Salyo sendiri. ”Coba buka baju saja; akan saya usir.” Dan Mbah Danu
mulai berpraktek. Pertama kali ibu jarinya kedua-duanya ditekannya
ke dalam daging perut Nyonya Salyo, sehingga terbenam sama sekali
dan si pasien mencetuskan bunyi yang sukar dilukiskan. Kemudian
perut Nyonya Salyo ditekannya dengan kedua telapak tangan, sehingga
angin keluar dari bawah dengan bunyi meletup. Setelah itu, punggung
dan tengkuk mendapat giliran, dan dengan lega Nyonya Salyo
bersendawa. Kemudian Mbah Danu melakukan kombinasi kedua
pijetan itu, sehingga angin berlomba-lomba keluar dari atas dan dari
bawah dengan berletusan, justru ketika itu Mr. Salyo masuk ke kamar
dari jalan-jalan ke tepi pantai. Dengan keras Mbah Danu diperintahkan
keluar dari kamar seperti Mbah Danu mengusir setan-setan dari tubuh
orang sakit. Kemudian istrinya dimarahinya. ”Engkau tahu bukan,
bahwa pijetan itu bisa merusakkan rahim?” Sebagai akibat insiden itu,
Mbah Danu tidak diizinkan menginjak lantai rumah itu kalau menantu
akademikus Pak Jaksa itu datang. Suatu kekalahan bagi Mbah Danu.
Untung hal itu terjadi paling kerap hanya dua kali dalam setahun. Pada
waktu-waktu yang lainnya kedaulatan Mbah Danu tetap utuh. Clash
kedua antara Mbah Danu dan Mr. Salyo, meskipun tak langsung
berhadap-hadapan terjadi ketika Mbok Rah, pelayan Pak Jaksa yang
setengah umur, sakit keras justru ketika menantu Pak Jaksa yang
berpendidikan tinggi itu berkunjung ke Rembang. Pak Jaksa dan Bu
Jaksa tanpa pikir panjang segera menyuruh panggil Mbah Danu ketika
Mbok Rah mulai mengigau; sedangkan Mr. Salyo dengan penuh
pertimbangan meminta datang Dokter Umar Chattab. Sangat kebetulan
Dokter Umar Chattab lebih awal datangnya daripada Mbah Danu yang
tidak punya mobil sehingga yang bereaksi tangan di stetoskop Dokter
Umar, bukan tangan dan air ludah Mbah Danu.
”Malaria,” diagnose Dokter Umar Chattab di kamar Mbok Rah yang
gelap. Ia memberi resep kinine, yang pada masa itu satu-satunya obat
yang mujarab untuk malaria. Setelah memberi petunjuk-petunjuk lain
tentang makan dan rawatan si sakit, Pak Dokter pulang. Penyakit Mbok
Rah makin lama makin keras. Pak Jaksa dan Bu Jaksa dan tetanggatetangga
dekat, tahu benar apa sebabnya. Kualat Mbah Danu! Dan
mereka mendesak, agar supaya Mbah Danu dipanggil, tetapi sebagai
jawaban, Mr. Salyo memanggil Dokter Umar Chattab. Soal ini jadi
perkara kehormatan baginya, dan perhubungan antara mertua dengan
menantu jadi tegang. Nyonya Salyo dengan susah payah bisa tetap
tinggal dengan netral, tetapi sebagaimana juga di dalam politik ia
dipandang dengan marah oleh pihak yang bertentangan. Namun, ia
tetap mempertahankan politik bebas yang pasif.
Dokter Umar Chattab heran. ”Kininenya sudah Tuan berikan
sebagai yang saya tetapkan?” tanyanya.
”Ya,” jawab Nyonya Salyo mendahului suaminya. ”Saya sendiri
yang memberikan pil-pil itu kepada Mbok Rah.”
Dokter Umar Chattab dengan tidak mengubah ketetapannya.
Hanya saja ia berpesan agar waktu menelan pil si sakit diawasi
sungguh-sungguh.
Keadaan Mbok Rah makin lama makin buruk dan malamnya lagi
ia mati.
Perang dingin kini mencair jadi gugatan-gugatan lisan yang pedas,
meskipun tak ditujukan secara langsung. Dengan tak dipanggil, Mbah
Danu datang sendiri. Mr. Salyo mengundurkan diri ke dalam ruang
tamu. Asbaknya penuh dengan puntung sigaret.
”Kita telah berbuat sebaik mungkin,” kata Nyonya Salyo menghibur
suaminya.
”Mengapa, Jeng, mengapa ia meninggal?” seru Mr. Salyo dengan
gairah sambil memeluk bahu istrinya yang tidak menjawab.
”Kita tak bisa percaya kepada nonsense itu, bukan?” katanya lagi.
”Innalillahi wa inna lillahi raji’un,” kata Nyonya Salyo. Ketika fajar
menyingsing, persiapan-persiapan untuk penguburan dimulai. Pada
jam 7 orang-orang masuk ke kamar jenazah dan mengangkatnya keluar.
Mr. Salyo dan Nyonya ikut menyaksikan jenazah dari tempat ia dan
Dokter Umar Chattab menderita kekalahan terhadap mertuanya dan
Mbah Danu. Nyonya Salyo yang mendampingi suami di kamar itu
dalam hati kecilnya cenderung kepada ayah bundanya, tetapi merasa
harus solider dengan kekecewaan suaminya. Hawa di dalam kamar
itu pengap, tambah menyesak dada oleh asap kemenyan. Mr. Salyo
membuka jendela lebar-lebar, sehingga sinar matahari masuk dengan
gelombang besar. Suatu sosok tubuh muncul diambang pintu, Mbah
Danu. Matanya membara. Mr. Salyo merasa tengkuknya dingin. Ia
menghela napas panjang dan melemparkan pandang terakhir kepada
bale-bale tempat semalam jenazah berbaring. Dengan sangat tiba-tiba
ia terpekik dan telunjuknya diacungkannya ke sudut kamar. Matanya
terbelalak lebar-lebar. Nyonya Salyo dan Mbah Danu menengok. Dan
juga mereka melihat pil kinine membukit di lantai di bawah bale-bale
Mbok Rah.

Meredam Matahari di Kala Kelam Murparsaulian

Pada akhirnya apapun yang terjadi, Ahya berusaha terus agar bisa melangkah
dengan tenang.
Melewati hidup, walau debar-debar keperihan selalu mengikutinya, namun
tiada lagi yang dapat disesalkan, sebab pedih dan bahagia hanya dipisahkan
oleh sehelai benang, sulit untuk ditebak.
Begitu kesimpulan sementara yang dipahami Ahya dari perjalanan hidupnya
yang rumit itu.
Bulan pucat pasi pada seperempat malam yang mengiba sedih.
Ahya menyisir malam sendirian, bersandar di dinding-dinding sepi.
Bibirnya mendesis garang, menenangkan pikirannya yang jauh
melayang sampai ke sebuah kota yang jauh dari tubuhnya yang
bersandar lemah di kursi kayu taman itu. Taman, di mana orang-orang
banyak menghabiskan waktu yang kian terengut rutinitasnya. Bekerja
monoton sepanjang hari. Begitulah dari waktu ke waktu. Tak ada tersisa
untuk berpikir.
Ahya menghitung-hitung sudah berapa kali ia duduk menyendiri
seperti ini. Mengapa sepi selalu membayangi hidupnya. Malam ini
sengaja untuk tidak melakukan aktivitas rutinnya. Bosan, hal itu selalu
terlontar dari mulutnya.
”Kau lelaki yang kesembilan ratus memelukku,” rintih Ahya
tertahan memendam dendam. Bintang makin terang. Sedang bulan
makin cerah saja memaknai setiap desah nafas Ahya dan Pak Heli yang
semakin larut dalam pergumulan tanpa tepi.
Hujan makin lebat seperti hendak tenggelamkan bumi. Usai sudah
petualangan Ahya malam ini. Di benaknya yang ada hanya sejumlah
angka-angka dalam hitungan dollar, ringgit, atau rupiah pun jadilah.
”Yang penting duit, asal dalam jumlah banyak,” ucapannya terkadang
dalam kelirihan yang menghempaskan ke dinding risau yang berdiri
kokoh di kisi-kisi hatinya.
Malam makin memburu pagi. Subuh-subuh sekali perempuan
cantik tinggi semampai itu keluar dari kamar hotel. Di tasnya setumpuk
uang. Sayup dari kamar no. 16 lagu Blues sempat didengarnya.
Meninggalkan seorang laki-laki yang tadi pagi berbohong pada istrinya.
Pergi dari rumah untuk urusan kantor, keluar kota. Gila!
”Kau lelaki yang kedua ribu,” rintih Ahya pecah, namun, kalimat
yang diucapkannya tak dapat ditangkap jelas oleh laki-laki yang
menidurinya. Di kamar itu, dan di balik malam yang kelam, dendam
Ahya makin dalam. Subuh yang datang untuk kesekian kalinya
disambut dengan sesal yang sesak. ”Sampai kapan aku begini,” tibatiba
pertanyaan yang paling ditakutinya itu muncul.
Sudah berulang kali angka-angka di rekening tabungannya ia
pelototi. Ia tak percaya telah mengumpulkan uang sebanyak itu. Dulu
sebelum terjun ke dunia yang ditekuninya dengan serius ini, isi
tabungannya masih sepi. Tak seramai saat ini.
Ah.., Badrun pasti akan marah jika ia mengetahui pekerjaannya
selama ini. Sedangkan anaknya Selma, sudah besar. ”Tapi mengapa
Badrun tak terbentik niatnya pulang. Begitu sibukkah ia mencari nafkah
di negeri tetangga sana. Atau…..Ah…, setiap kali pikiran itu datang
Ahya selalu berusaha untuk menepisnya. Atau Badrun masuk dalam
deretan nama TKI yang dicambuk. Oh..., alangkah kejamnya hidup,
jika ternyata sangkaannya itu benar. Perempuan itu berjuang di sini
sendiri, dan Badrun bisa dikatakan bertanggung jawab, sedangkan
sepucuk surat pun tak pernah sampai di tangannya yang mengabarkan
bagaimana keadaan laki-laki itu. Benarkah Badrun ikut dicambuk?
Sungguh, berita di koran tadi pagi yang mengatakan puluhan TKI
mendapat hukuman cambuk di negeri jiran Malaysia, cukup
meruncingkan hatinya.
Apa pun yang dialami Badrun saat ini, yang jelas Ahya juga sedang
menderita. Perempuan kata banyak orang cenderung lebih banyak
disakiti daripada laki-laki dan Ahya menyadari hal itu. Tapi jika andai
betul Badrun ikut dicambuk, derita manakah yang lebih pedih di antara
mereka berdua? Ahya menyimpan sekat duka yang tertahan di
kerongkongannya dan menumpuk pedih di dadanya.
Pada akhirnya apa pun yang terjadi, Ahya berusaha terus agar bisa
melangkah dengan tenang melewati hidup, walau kadang debar-debar
keperihan selalu mengikutinya, namun tiada lagi yang dapat disesalkan,
sebab pedih dan bahagia hanya dipisahkan dengan sehelai benang, sulit
untuk ditebak, begitu kesimpulan sementara yang dipahami Ahya dari
perjalanan hidupnya yang rumit itu.
***
Malam ini Ahya tidak ke mana-mana. Ia mendekam di kamar
rumahnya. Berpuluh-puluh pesan lewat SMS masuk, namun tak
dihiraukannya. ”Ini aku di kamar 15 menunggu kamu.” Begitu pesan
itu berulang-ulang. Ahya tahu pesan yang berbunyi seperti itu. Dan
jika mau jujur pesan inilah yang selalu ditunggu-tunggunya. Namun
malam ini ia begitu enggan, badannya letih dan lesu. Berulang-ulang
hand phone-nya berbunyi, Ahya tak hendak menjawab karena tak ingin
berkomunikasi langsung. Ahya pasti bingung untuk menolak, jika
berbicara langsung dengan pelanggannya.
Sudah pukul dua malam, Ahya masih belum tidur juga. Selma
tertidur nyenyak dalam pelukannya. Jarang sekali gadis kecil itu dapat
tidur dalam pelukannya. Sejak ia berumur tiga tahun, bocah itu sudah
diasuh oleh Anum sampai usia lima tahun sekarang ini. Tapi entah
mengapa malam ini Ahya rindu sekali memeluk anaknya,
mendekapnya, dan rindu tidur seranjang. Rindu itu juga menyentaknyentak
hati Ahya. Rindu kepada suaminya Badrun, yang entah kapan
pulang dan entah bagaimana nasibnya kini.
Jalan seperti inilah akhirnya ditempuh Ahya untuk memenuhi
segala kebutuhannya. Bahkan ia dapat hidup mewah. Selma tidak
ketinggalan dari teman-temannya. Gadis kecil itu bisa mengenakan baju
bagus-bagus. Bila kawannya bersepeda, ia juga dibelikan sepeda oleh
ibunya. Sama seperti anak kepala imigrasi di sebelah kanan rumahnya.
Ahya makin tak percaya diri. Niatnya untuk keluar dari lembah
hitam itu pupus sudah, bahkan ia berjanji tidak akan keluar. ”Inilah
duniaku. Dunia di mana sulit membedakan antara yang boleh dan tidak
boleh, antara yang halal dan yang haram. Masa bodoh!” Begitu selalu
Ahya berkata bila terpikir hal itu. Toh pikirannya sudah berusaha untuk
jadi orang baik-baik selama ini. Mengasuh kesetiaan menanti Badrun
yang pamit padanya ke negeri jiran untuk mencari kerja, mengubah
penghidupan. Namun Badrun hanya mengirim belanja selama enam
bulan. Setelah itu ia harus banting tulang sebagai buruh pabrik, sendiri
dan sendiri. Hingga ia menutup telinga atas gunjingan tetanggatetangganya
dengan profesi sebagai wanita penghibur.
***
Sudah lima belas hari Ahya tidak keluar rumah. Badannya terlihat
bertambah kurus. Kini ia tak kuat lagi mengantar jemput Selma ke
sekolah, padahal tujuannya istirahat untuk memperhatikan kehidupan
anaknya yang tunggal itu. Sekedar istirahat sebentar beberapa saat,
berhenti dari aktivitas malamnya, karena Ahya menyadari Selma
sedang tumbuh, jadi perlu perhatian. Perempuan itu juga tak berniat
untuk berhenti selamanya, karena targetnya mengumpulkan uang
sebanyak-banyaknya untuk sekolah anaknya belum tercapai.
Segumpal risau membayang di wajah Ahya. Rencana untuk sekedar
sejenak memperhatikan anaknya musnah. Bahkan kini, yang mesti
diperhatikan dirinya sendiri. Untung anaknya Selma tidak terlalu
banyak menuntut.
Kehadiran ibunya untuk beberapa saat di rumah memercikkan rasa
bahagia di hati gadis kecil itu. Walau kadang nalurinya mengatakan
kebahagiaan yang dirasakannya saat ini tak lengkap, tanpa kehadiran
seorang ayah. Seperti teman-temannya yang lain.
Suatu ketika, saat pendaman rasa di hatinya tak terbendung lagi,
ia menanyakan perihal ayahnya pada Ahya. ”Ma, kapan papa bisa di
rumah lagi, seperti mama saat ini?” Pertanyaan yang membuat remuk
hati Ahya. Kalimat itulah yang selama ini berusaha dibungkamnya dari
mulut Selma. Ia takut dan tak siap menjawab pertanyaan itu.
Ada titik hendak jatuh, bergulir di matanya yang mulai cekung.
”Tak lama lagi papa juga pasti akan berkumpul bersama kita. Papa
sayang sama Selma, hanya saja saat ini papa belum ada waktu. Papa
harus kumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk sekolah Selma.
Kamu mau jadi orang pintar kan,” jawab Ahya tegar, namun ada sekatsekat
yang bergetar dari tenggorokannya.
Ia belai rambut gadis kecilnya, buah hati perkawinan dengan
Badrun. Ia ingat kebahagiaan yang pernah ia rasakan, saat Badrun selalu
setiap subuh membangunkannya dengan kecupan, membelai perutnya
yang kian membesar. Dan sakit luar biasa yang ia rasakan ketika
melahirkan anak pertama mereka, Badrun di sisinya, memberi
kekuatan, harapan hidupnya.
Dengan Badrunlah ia mengenal hidup susah. Jauh beda dengan
kehidupan keluarganya yang serba mewah. Bersama Badrun pula ia
terbiasa pergi ke mana-mana naik mikrolet, bajaj, tanpa sedan mewah
papanya.
Akh, tiba-tiba semua rekaman peristiwa selama ini bermain lagi
dalam benaknya. Sejak pertemuan pertamanya dengan Badrun, teman
sekolahnya yang pada mulanya bersikap acuh padanya. Namun Ahya
tertarik wajah ganteng itu. Itulah awal kehidupannya. Sekolah mereka
sama-sama tak selesai. Ahya lari dari rumah dan memilih Badrun
sebagai teman hidupnya, padahal mereka belum punya apa-apa.
Ahya anak sulung itu dikucilkan dari keluarga, dianggap telah
mencemarkan nama baik keluarga, kawin dengan orang berkelas
bawah. Badrun satu-satunya tempat Ahya menggantungkan harapan.
Dua tahun hidup bersama, Badrun akhirnya memutuskan untuk
mencari pekerjaan ke Malaysia. ”Bukankah semasa bujang dulu Abang
sering jadi TKI ilegal. Kenapa sekarang Adik berat melepas Abang. Toh,
Abang akan pulang lagi membawa modal untuk kehidupan kita. Selma
tidak boleh seperti kita, ia harus sekolah dan jadi orang. Kita harus
mendidik dengan baik, mendidik tanpa uang omong kosong akan
berhasil.” Itulah ucapan Badrun yang saat ulang tahun perkawinan
mereka yang kedua. Dua hari kemudian, Badrun mewujudkan apa yang
pernah diucapkannya itu. Ahya mengantar kepergian suaminya dengan
air mata kepedihan dan perasaan ragu menjalani hidup.
***
Hujan deras senja itu Ahya duduk muram di belakang meja
sendirian. Di depan berserakan botol Jhoni Wolker dan bir. ”Aku harus
kembali lagi dan kuat menjalani warna hidupku yang dulu,” batinnya
mendesis. Sudah dua jam seseorang yang berpesan lewat SMS itu belum
juga datang. Gigil tubuhnya ditahannya. Lesu dan letih mendera tubuh
dan batinnya. Tapi ia harus kuat. Terbayang wajah Selma yang tertidur
pulas sore tadi ketika ia berangkat dari rumah. Untuk pertama kalinya
ia memulai kehidupan malamnya lagi. Setelah berpikir tak ada pilihan
selain kembali.
Dua detik berselang, sosok tubuh cantik, tinggi semampai itu naik
mobil Volvo biru tua. Mobil itu melaju menuju arah selatan. ”Kita akan
bersenang-senang, mungkin untuk dua atau tiga hari,” ujar seorang
lelaki. Ada titik yang mau jatuh namun tertahan di bulir-bulir waktu.
Mimpi Ahya tadi malam berlanjut malam ini. Ia masih saja merangkak
menyusuri jalan gelap itu, sendiri. Di negeri seberang sana, beribu TKI
masih juga menyimpan mimpi.

Rumah yang Bercahaya Oleh Adek Alwi

Ia hampir 70 tahun, lebih dari usia Nabi Muhammad, dan merasa maut bertambah dekat.
Malah pernah seperti dilihatnya tamu itu menatap lekat-lekat dari ambang pintu, lalu
lenyap, seakan memberi isyarat. Dan dia yakin lain kali kehadirannya tidak lagi membawa
isyarat, melainkan untuk menjemput.
Lelaki tua itu pun bersedia dijemput. Tetapi bila saat itu tiba, entah kapan, ia tidak
ingin rumahnya kotor awut-awutan. Tamu itu harus disambut dengan sebaik-baiknya.
Lelaki tua itu sudah sering melepas mereka yang berangkat dijemput tamu itu, dan
kerap pula ia saksikan orang-orang tersiksa oleh bau tidak sedap serta kotoran dari
rumah orang yang pergi.
Mula-mula beberapa orang mulai berbisikbisik,
sambil menutup hidung mereka seperti
tidak disengaja. Kemudian seperti wabah,
bertambah banyak yang melakukan.
Akhirnya mereka tidak lagi berbisik-bisik,
tetapi membincangkan bau-bau busuk dan
kotoran itu terang-terangan.
Di beberapa tempat peristiwa itu bahkan
tanpa memerlukan prolog. Begitu tiba orangorang
bergabung dengan mereka yang datang
lebih dulu, lalu terlibat dalam percakapan yang
seru mengenai aib itu.
”Alangkah celakanya orang ini,” renung orang tua itu di hadapan mayat yang terbujur
kaku. ”Alangkah malang. Bahkan saat keberangkatannya pun dia masih meninggalkan
siksa bagi sesama, karena rumahnya kotor dan bau. Ampunilah manusia ini ya, Allah.
Maafkan kekhilafannya.”
Lelaki tua itu tidak mau kemalangan serupa menimpa dirinya. Ia menggigil
membayangkan orang tersiksa karena sesuatu yang buruk yang berasal dari rumahnya,
justru saat kepergiannya pula. Dia merasa harus bersiaga dan berbenah. Dia ingin
orang-orang bebas dari bau tidak sedap, kotoran, juga debu yang menempel di manamana,
jika tamu itu tiba. Lelaki tua itu ingin rumahnya bersih dan bercahaya karena
kebersihannya, supaya penjemput itu tidak datang memberengut dan mereka yang
ditinggalkan merasa lega. ”Selamat jalan, Pak Tua. Sambutlah tamumu dengan gembira
dan mudiklah dengan tenang.”
Tetapi sungguh berat merawat rumah dalam usia tua. Membersihkan kotoran sembari
menjaga kotoran baru tidak timbul, apalagi menumpuk dan menjaga bau-bau busuk
tidak muncul, debu jangan menempel di lekuk-lekuk rumah.
Lelaki tua itu merasakan benar beratnya melakukan semua itu. Dia kerap terengahengah
dibuatnya. Seolah berderak tiap persendiannya. Sering berair matanya yang
lamur. Hanya tekad agar senantiasa siap menanti tamu itu yang membuatnya bertahan,
terus membersihkan rumah sambil berupaya menanam bunga-bunga.
Untunglah, jika bisa disebut begitu ia tak terlalu asing dengan laku itu. Almarhum
istrinya adalah orang yang khusyuk, sabar, dan juga rajin. Puluhan tahun perempuan
itu tak pernah berhenti membersihkan rumah, menghias rumahnya dengan bunga-bunga
sehingga jangankan tumpukan kotoran dan bau tak sedap, debu seakan enggan hinggap
di sudut-sudut rumah. Harum bunga-bunga yang ditanamnya semerbak sampai ke rumahrumah
tetangga, menyamankan perasaan dan pikiran mereka.
Waktu lelaki tua itu aktif sebagai pejabat, istrinya selalu siap dengan pakaian
pengganti yang bersih begitu ia pulang kantor. Pakaian kerjanya langsung dimasukkan
perempuan itu ke bak cucian. Bahkan tas kerjanya tak lepas dari perhatian istrinya.
Isinya dikeluarkan, kemudian dilap dan dibersihkan, sebab debu maupun kotoran bisa
jadi menodai tas itu.
Dan sewaktu-waktu istrinya memang menemukannya. ”Lho, ini apa, Pak? Kotornya
dari sini lho sumbernya!” ujar perempuan itu mengeluarkan amplop yang lengket di
dalam tas.
”O, itu ...tadi....”
”Dibuang sajalah, Pak! Mengotori tas Bapak saja. Hm, rumah bau jadinya. Kasihan
Bapak, kasihan anak-anak!”
Adakalanya perempuan itu menjadi amat berduka dan gemas menemukan hal-hal
serupa itu. ”Sampai hati orang-orang itu menghina Bapak,” ujarnya dengan rasa masygul
yang menjebol dinding kesabaran. ”Mengotori tas serta rumah Bapak dengan bendabenda
kotor dan bau ini!”
”Baiknya kita tidak berprasangka. Barangkali maksud mereka....”
”Tetapi mengapa Bapak yang dipilih? Mengapa pejabat negara? Lebih tepat panti asuhan
atau lembaga sosial lainnya kalau mereka tulus. Sekiranya bukan bermaksud untuk menghina
dan mengotori.”
Diam-diam lelaki tua itu merasa terharu. Bagaimanapun sebelum ia pensiun, bau-bau
tak sedap, kotoran, dan debu bertebaran riuh di luar rumah. Tidak terkecuali di kantornya.
Dan tempo-tempo ada saja yang terbawa pulang, menempel pada pakaian atau tas kerja,
sekalipun dia telah menepis-nepiskan. Angin di luar berembus kencang sehingga sulit
menghindar dari kotoran dan bau-bau busuk yang bertebaran. Beberapa kawannya malah
jadi terbiasa, bergelimang kotoran serta bau tidak sedap setiap waktu. Untung dia punya
istri yang khusyuk, sabar, dan rajin, yang menjadi bumper bagi kelemahannya. Istri yang
tidak pernah letih membersihkan rumah, merawatnya dengan aneka bunga-bunga, dan
membesarkan anak-anak mereka di dalamnya.
Lelaki tua itu mengenang perempuan itu dengan takjub, serta berterima kasih, di
sela-sela kesibukannya berbenah dengan tulang-tulang yang rapuh. Dan tenaga yang
ia rasakan semakin redup bagai nyala lilin menjelang habis. Seperti banyak kawannya,
bukan tidak mungkin dia akan terbiasa dengan kotoran dan bau-bau itu seandainya
istrinya tak ada. Angin terlalu kencang di luar rumah, bau-bau busuk dan kotoran
bertebaran di mana-mana.
Mengagumkan betapa istrinya menjaga kekhusyukan dan kesabaran merawat rumah
terus-menerus selama berpuluh tahun, sampai-sampai dijemput tamu itu tiga tahun
silam dalam usia enam puluh lima. Apa yang membuat istrinya bertahan? Keyakinan
bahwa penjemput itu mesti diterima dengan tangan terbuka di rumah yang bersih?
Mengapa istrinya tidak terengah-engah seperti dia? Mengapa istrinya tidak goyah-goyah
oleh angin, melayang-layang bagai banyak istri kawan-kawannya?
Lelaki tua itu menarik napas panjang mengenang semua itu. ”Ia memang perempuan
luar biasa,” bisiknya dalam kesunyian yang menggigit, di tengah-tengah sisa tenaganya
yang bertambah redup. Dia merasa tidak mampu menandingi kekhusyukan istrinya,
tetapi berbahagia dapat berdampingan dengan wanita itu selama puluha
Pada suatu hari lelaki tua itu pun jatuh sakit atau sakit-sakitan. Menurut dokter,
penyebabnya lebih karena kecapaian, serta berbagai akibat dari tubuh yang telah lapuk
dimakan usia maka lelaki tua itu terbaring saja di tempat tidur.
Ketiga anaknya berdatangan bersama istri atau suami mereka. Rumah jadi ramai.
Apalagi anak perempuannya, si bungsu yang serupa benar dengan ibunya itu, membawa
kedua anaknya yang belum bersekolah.
Menyaksikan cucunya menerobos kamarnya bagai dua perampok kecil, lelaki tua itu
seperti mendapatkan tenaganya kembali untuk berbenah membersihkan dan merawat
rumah. Ia merasa harus berkejaran dengan waktu. Warnanya semakin kuning-tua, mersik
bagai kerisik, sementara daun-daun muda, cucu-cucunya, telah tumbuh dengan segala
kesegarannya.
”Mau mengapa Bapak? Berbaring sajalah, Pak,” anak perempuannya mencegah
dia bangkit. Mata anaknya memerah dan basah.
”Hanya mau salat.”
”Sambil berbaring juga bisa, Pak. Badan Bapak masih lemah. Muka Bapak pucat.”
Lelaki tua itu tergolek lagi di tempat tidur. ”Kemarikan cucu-cucuku.”
Kedua anak itu ditarik ibunya mendekat. Lelaki tua itu mengusap-usap kepala kedua
bocah itu, menatap mata mereka tanpa berkata-kata, kemudian tersenyum. ”Aku ingin
salat sambil duduk,” gumamnya.
”Asal jangan dipaksakan, Pak,” sahut anak lelakinya.
”Ibu kalian itu menakjubkan,” ujar lelaki tua itu. ”Aku mencium bau bunga-bunga
yang ditanamnya. Apakah kalian tidak mencium wanginya?”
Sambil menangis, dia sesali lelaki tua itu tidak mau tinggal bersamanya.
”Bapak tahu saya tak bisa terus-terusan ke sini untuk merawat Bapak,” kata anak
perempuannya. ”Tidak mungkin saya tinggalkan rumah tiap hari, Pak.”
”Sudah betul itu, Nak. Mengapa pula kamu menangis? Masing-masing orang memiliki
rumah dan wajib merawat rumahnya baik-baik.”
”Bapak jangan berkata begitu. Pedih hati saya,” anaknya terisak-isak. ”Sungguh,
Pak. Saya ... saya tidak bermaksud....”
”Bapak tahu maksudmu. Jangan kamu menangis lagi. Rawat saja rumahmu baikbaik.
Teladani ibu kalian, rajin dan khusyuk merawat rumah sejak mudanya.”
”Tetapi Bapak juga rajin merawat rumah,” sela anak laki-lakinya menghibur. ”Bersih
kami lihat rumah Bapak.”
Lelaki tua itu tersenyum. ”Akan lebih baik jika sedari dulu dilakukan, Buyung,”
jawabnya. Matanya menerawang. ”Sekarang sudah kasip. Tenagaku sudah tidak ada
lagi. Eh, aku cium lagi harum bunga-bunga ibu kalian. Apakah kalian tidak mencium
wanginya?”
Anak perempuannya kembali menangis. Begitu pula kedua menantunya yang
perempuan. Sementara menantu serta kedua anak lelakinya saling pandang. Dan malam
itu mereka tidur bergantian, berjaga-jaga.
Tetapi tamu itu tidak datang. Juga keesokan hari dan besoknya lagi, penjemput itu
tidak muncul. Tanda-tandanya pun tidak. Lelaki itu malah kelihatan sehat dan segar, tiap
sebentar mengusap kepala kedua cucunya, serta merenungi mata bocah-bocah itu
sambil tersenyum.
”Kakek sakit ya, Kek?”
”Ya, kakek sakit.”
”Kakek sudah tua, ya?”
”Kakek sudah tua.”
”He, gigi Kakek ompong!”
”He-he-he. Namanya sudah mersik, Cu.”
”Nanti kami juga mersik seperti Kakek?”
”Semua orang bakal mersik. Tetapi kalian sekarang hijau segar. Rawat saja rumah
kalian baik-baik.”
”Kami kan belum punya rumah, Kek.”
”Nanti juga punya. Semua orang punya rumah.” Lelaki tua itu terkekeh-kekeh
membelai kedua bocah itu.
Tidak ada cahaya membersit laksana ledakan meteor dari rumah lelaki tua itu ketika
tamu-tamu yang dinanti-nantikan itu tiba. Orang-orang yang datang ingin melepas
kepergian lelaki tua itu pun tak berbisik-bisik sambil menutup hidung bagai tidak
disengaja. Mereka berbicara saja lazimnya pelayat. Para tetangga ngobrol
memperbincangkan kegemaran lelaki tua itu menanam bunga-bunga, seperti dulu
dilakukan istrinya. Sementara yang tua-tua bercakap-cakap tentang musim, ketika angin
pernah bertiup demikian kencang sehingga bau busuk dan kotoran bertebaran di manamana.
”Jarang yang mampu terhindar dari cipratan kotoran dan bau-bau tak sedap itu,”
ujar orang satu sama lain seraya memandang rumah lelaki tua itu.
Jawa Pos, 4 September 2005