Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Februari 2012

Sumi dan Gambarnya

Lukisan ini dibuat oleh seorang pelukis, yang
sekarang alih profesi sebagai pedagang sebuah toko.
Dia memajang lukisan itu di tengah-tengah tokonya.
Menurut pemilik toko, lukisan yang dibuatnya itu
adalah karya bagus yang tidak bisa dibuat lagi. Namun,
harus dinikmati
oleh banyak orang.
Lukisan itu berbentuk seorang perempuan
yang berwajah biasa. Namun, kelihatan sangat
bersenang hati. Itu gambar Sumi.
Sumi sudah tidak ingat, kalau dia pernah dilukis.
Sebab kini dia istrinya Bejo, lelaki sedesanya.
Sumi
mencintai suaminya. Ucapan suami adalah perintah
bagi Sumi, yang diterimanya
dengan lego lilo.
Pada suatu kali temannya, Juminten, yang
bekerja di pabrik datang dan bercerita. "Hidup
sebagai buruh pabrik, gajinya kecil. Tapi, aku senang,
daripada menunggu uang dari suamiku, yang kadang
memberi tapi lebih banyak tidak. Aku bisa jalanjalan
ke mana saja dengan uangku."
Sumi sebetulnya ingin juga mencoba, barang
sebulan atau dua bulan, agar bisa beli baju dan
jalan-jalan seperti Juminten. Tentu saja, Bejo tidak
pernah memberi izin kepada Sumi dan dengan
telak Bejo bicara kepada Juminten, "Kalau suamimu
mengizinkan kau kerja di pabrik, itu urusannya. Tapi,
kau paham kan kalau Sumi itu hakku."
Ketika Bejo berkata begitu kepada Juminten,
di tempat yang lain, pemilik lukisan bercerita ke
seorang langganannya, mahasiswi yang suka ngebon
di tokonya. "Sumi seorang perempuan sederhana
yang sangat menikmati hidup ini."
Mahasiswi itu menimpali, "Betul Pak, mungkin
perempuan seperti dia lebih bisa menikmati
hidup
ini. Saya terkadang iri sebab dia bisa memecahkan
kehidupan ini dengan cara yang sederhana."
Sumi yang sedang dibicarakan, baru saja
ditampar suaminya. Karena Sumi masih bicara
tentang keinginannya untuk bekerja di kota.
"Kalau saya dengar ucapanmu lagi, kamu tahu
sendiri akibatnya!"
Sumi tertunduk. Dia takut sekali dengan ucapan
suaminya.
Pemilik toko itu, selanjutnya berkata kepada
teman bicaranya. "Saya tertarik melukis dia. Karena
saya anggap dia begitu bahagia."
Dan mahasiswi itu cepat-cepat menjawab,
"Yah, kadang-kadang kita tidak bisa tahu lagi apa
yang kita kerjakan untuk menghadapi hidup yang
desak-mendesak ini."
Sementara itu, tiba-tiba Sumi ingin sekali
punya anak. Dia merasa perlu memiliki anak yang
pintar, agar bisa membawanya ke kota untuk belanja
dan jalan-jalan. Tetapi Bejo tidak setuju dengan
pikirannya. Menurut Bejo, dia kan sudah punya tiga
anak dari suaminya yang terdahulu.
Dan lagi Sumi
sudah berjanji akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
Bejo mengatakan,
sebaiknya dua atau tiga tahun
lagi mereka punya anak, kalau Bejo sudah punya
pekerjaan yang lebih bagus. Sumi sebetulnya ingin
membantah.
Seorang penggemar seni datang ke Pedagang
itu, menawar gambar Sumi yang tersenyum
dengan
harga yang selalu diimpikan oleh setiap pelukis. Di
sisi lain, di kebun jati, Sumi merasa sulit bernapas.
Dia membayangkan, betapa bagusnya kehidupan
orang lain. Seandainya
dia punya anak dari Bejo ...
Tapi memang, pada saat ini, Bejo tidak ingin punya
anak dari Sumi! Bejo sekarang, rupanya lebih suka
pergi dengan perempuan lain. Menurut Bejo, Sumi
tidak bisa jadi perempuan yang baik karena anganangannya
berkeliaran tentang kehidupan di kota.
Padahal Bejo sudah merasa jadi suami yang baik
sehingga yang salah pasti Sumi.
Mahasiswi itu sibuk memotret gambar Sumi,
yang sebentar lagi dijual ke seorang kolektor.
"Suatu saat, saya kepingin ketemu tokoh
Bapak itu. Karena perempuan itu begitu bahagia.
Sedang saya sendiri, sulit mengklarifikasi,
mengarifkan,
apa arti bahagia ini."
Sumi sedang bicara dengan orangtuanya,
"Sebenarnya, saya takut sekali ke kota, Pak. Tetapi
Bapak mestinya tahu, kalau suami saya sebentar lagi
akan menikah dengan tetangga sebelah rumah."
"Kamu tidak pernah mau belajar jadi istri
yang baik," kata bapaknya berang.
Sumi gelagapan. Dia merasa salah dan tidak
tahu apa yang bisa diucapkan kepada bapaknya.
Rasanya dia begitu jenuh pada Bejo, tapi dia sendiri
tidak bisa menerangkan, jelasnya bagaimana?
Sumi ke kota, sebagai buruh pabrik. Di
antara jam-jam kerja, dia merindukan keluarganya,
bahkan Bejo yang kabarnya sudah menikah dengan
perempuan lain.
Kedip lampu jalanan aneh, membuat dia
merasa kangen dengan kebun jati, Bejo, dan
desanya.
"Jadi, Sumi sudah sebulan di kota ini," kata
pedagang itu.
"Pak, saya ingin melihat lukisan saya. Kata
Bapak, di lukisan itu saya begitu bahagia."
"Maaf ya Sum, lukisan itu sudah saya jual.’’
Sumi tertegun Bukankah pedagang itu
pernah berjanji, tak bakal menjualnya, sekali pun
gambarnya ditawar mahal.
Dengan kacau dia pulang ke rumah
kontrakkannya
yang sedang sepi. Dia tersedot
pada suatu pikiran yang aneh. Apakah mungkin
Bejo dan pelukis ini yang membuat dia tidak
sesenang dulu? Cepat-cepat pikiran itu segera
dimatikan. Dia ingin kerja lebih keras seperti
Juminten, agar dapat gaji lumayan. Tapi akhirakhir
ini, sering terpikir olehnya kedua lelaki itu
(Bejo dan pelukis) yang pernah dicintainya. Dan
keduanya kini membiarkan dia terlempar ke kamar
sempit ini. Yah, Sumi memang tidak puas terhadap
segala hal. Entah sejak kapan kamar kontrakan
yang dihuni lima orang ini membuat
Sumi sering
merasa kepanasan sehingga
dia sulit tidur. Padahal
kerja di pabrik sangat melelahkan.
Lukisan Sumi terpampang di rumah mewah
sang kolektor. Lantas, seorang bule tertarik
pada
gambar Sumi. Dia membelinya untuk disimpan
di museum negerinya yang dingin. Menurut si
Bule, lukisan itu akan mengajarkan
bangsanya,
bagaimana tersenyum terhadap
hidup ini. Waktu
itu Sumi sedang menghitung
rupiahnya. Dia selalu
ingin membelikan
adiknya sebuah tas sekolah yang
bergambar.
Tapi selalu uangnya hampir tak tersisa.
Oleh karena itu, dia bercerita kepada Juminten,
ingin membinasakan
dua orang
lelaki itu. Juminten
yang mendengar ucapan Sumi tertawa. Bukankah
ada lelaki lain yang diam-diam mencintainya, Pardi,
mandor di pabrik mereka. Menurut Juminten,
Pardi lebih baik dari si pelukis dan Bejo. Sumi
tidak mau ngomong. Dia mencintai dua lelaki itu.
Sedang Pardi, sebaik apa pun, dia tidak pernah mencintainya.
Mahasiswi dan pedagang itu sedang terharu
karena sebentar lagi, lukisan itu akan diangkut ke
negeri Bule yang membelinya. Si Bule menghibur
mahasiswi ini, "Saya akan merawatnya baik-baik.
Siapa tahu Anda suatu hari kelak mengunjungi
negeri kami. Anda akan melihat, betapa cintanya
kami pada lukisan yang berwajah
Anda semua.
Profil yang sederhana dan bahagia."
Dan gambar Sumi memang sedang tersenyum.
Sedang Sumi sendiri, sedang menangis. Dia
mendengar kabar dari kampung kalau Bejo sudah
punya seorang anak lelaki dari istrinya yang baru.
Dan lukisannya bakal diangkut ke negeri lain.
"Saya akan membinasakan mereka! Saya tidak
bakal puas kalau tidak membinasakan Bejo dan
pelukis itu," jerit Sumi sambil menangis.
Juminten memberi nasihat, "Sudahlah Sum,
pokoknya Pardi sungguh-sungguh cinta sama kamu.
Buat apa mikir orang yang tidak cinta pada kita."
"’Bukan itu masalahnya!" kata Sumi berteriak.
"Jadi apa?" kata Juminten.
Sumi sendiri tidak bisa menerangkan. Cuma
saja dia merasa kebenciannya kepada kedua lelaki
itu semakin melebar dan kuat.
Dan mahasiswi itu berkata kepada pedagang,
"Lukisan Sumi sudah berangkat ya, Pak? Mestinya
saya memberi selamat pada pelukisnya.
Apakah
Bapak punya minat untuk melukis kembali, setelah
karya Bapak yang gemilang itu?"
Pedagang itu menggelengkan kepala.
Sumi adalah masa muda yang tidak bisa
kembali. Sungguh!
Sumi sedang menuju rumah pelukis. Dia
akan membunuh pelukis itu lebih dahulu. Setelah
itu Bejo. Kemarin pabrik menciutkan karyawannya.
Dia termasuk yang diberhentikan.
Bukankah
kesedihan ini tidak pernah dipedulikan oleh orang
yang telah mengambil seluruh hati dan tubuhnya
tanpa dia pernah menuntut imbalan?
Ketika sedang menuju rumah yang dimaksud,
dia dihadang oleh Pardi. "Apa betul kau mau
membinasakan orang?"
Sumi tidak menjawab. Dan Pardi berjalan di
sebelahnya.
"Apakah itu cita-citamu? Sebaiknya kau
mampir dulu ke rumahku, untuk omong-omong."
Sumi merasa malu dan capek. Lantas dia
berhenti. Pardi dengan sigap berkata, "Mengapa
mesti membinasakan orang lain? Mengapa kita
tidak kawin saja?"
Sumi dengan heran menatap Pardi. Jadi,
yang ngomong barusan bukan pelukis atau Bejo
suaminya?
Sumi sudah berada di muka toko. Dilihatnya
pelukis dan mahasiswi itu sedang ngobrol.
Pedagang yang melihat ekspresi Sumi, gemetar.
"Sum, apa maumu dengan pisau itu. Kalau
kamu mau pinjam uang, katakanlah. Kita kan
teman dari dulu. Dan saya tidak pernah bersalah
kepadamu."
Sumi melihat pedagang itu dengan perasaan
aneh. Benarkah dia tak punya alasan untuk membinasakan
atau dendam pada lelaki yang memberinya
cinta, dan menariknya kembali kala dia baru
saja mengenal dunia, dan merasa jadi perempuan?
"Kalau kamu tidak keluar dari sini, saya akan
lapor polisi!’’
Tiba-tiba Sumi merasa lemas dan keluar dari
toko ini.
"Bapak seharusnya tidak sekasar itu pada
simbol kebahagiaan kita!"
Pedagang itu tidak menjawab. Dan mahasiswi
itu sendiri tidak bisa berpikir apa pun lagi.
Juminten memberi nasihat, "Kita cuma orang
biasa. Tidak usah berpikir aneh-aneh. Lebih baik
kau menikah saja dengan Pardi. Siapa tahu Pardi
akan memberimu anak kembar."
"Entahlah Jum, saya merasa tidak bisa semudah
itu. Kedua lelaki itu telah mengambil seluruh jiwa
dan raga saya."
Kemudian Sumi menangis dan Juminten memeluknya
sembari turut menangis.
Suatu saat, mahasiswi itu berkesempatan
mengunjungi negara si Bule, tempat gambar Sumi
dipajang di salah satu museumnya.
"Yah, saya kira Anda sekarang tahu, kan? Kami
merawatnya dengan baik sekali sehingga gambar
itu masih tersenyum bahagia."
Itu memang gambar Sumi yang masih tersenyum.
Sumi sendiri sedang sulit tersenyum. Bersama
Pardi dia mesti menghidupi empat anaknya.
Itu memang Sumi dan gambarnya.
Sumber: Kumpulan cerpen Sumi dan Gambarnya,
2002

Darmon

Karya Harris Effendi Thahar

Dari suara dan sopan santunnya menyapa,
saya cukup simpati. Tetapi melihat tampangnya,
pakaiannya, dan bungkus rokok yang sekilas saya
lihat di kantung kemejanya, saya kurang berkenan.
"Saya Darmon, teman anak Bapak, Maya, yang
mengantar malam-malam sehabis demo tempo
hari."
"Oh, ya? Saya tidak ingat kamu waktu itu. Tetapi,
saya pikir Maya masih belum pulang dari kampus.
Mau menunggu?" tawar saya tanpa sengaja dan saya
berharap dia cepat-cepat pergi. Tetapi, tampaknya
dia lebih lihai dari yang saya duga.
"Tidak apa-apa Pak, kebetulan saya sudah
lama ingin ketemu Bapak, ngomong-ngomong soal
sikap pemerintah terhadap gerakan reformasi
oleh
mahasiswa."
"Oh, apa tidak salah? Saya kan bukan pejabat,
cuma pegawai negeri biasa," kilah saya sambil
terus menyiram pot-pot bonsai kesayangan
saya di
teras.
"Justru itu, Pak. Kalau Bapak seorang pejabat
atau bekas pejabat, pasti Bapak terlibat KKN dan
tidak suka dengan saya karena saya salah seorang
dari mahasiswa yang ikut mendemo
pejabat teras
di daerah ini."
Entah bagaimana, saya merasa tersanjung dan
mulai simpati pada anak muda itu, meski dalam hati
bercampur rasa was-was kalau-kalau dia ternyata
pacar Maya. Lebih jauh lagi, rasanya, Maya tak
pantas pacaran dengannya. Setidaknya, menurut
keinginan saya, pacar Maya, yang sekarang baru
sembilan belas usianya itu, haruslah
tampan dan kelihatan punya wawasan luas. Ini Darmon, seperti
yang diperkenalkannya
tadi, kelihatan tidak intelek
dan lebih mirip kernet bus kota.
Ia begitu saja mengikuti langkah kaki saya
memilih tanaman-tanaman kecil saya yang patut
disemprot air karena kelihatan kering. Sepertinya
Darmon tidak begitu tertarik dengan tanaman,
malah mencecar saya dengan pertanyaanpertanyaan
sekitar politik dalam negeri.
"Ngomong-ngomong, kamu jurusan apa?"
"Pertanian. Budi Daya Pertanian," jawabnya
datar.
Saya terkesima dan telanjur menduga ia
belajar sosial politik, mulai kurang simpati karena
dia justru tidak tertarik dengan hobi saya.
"Ngomong-ngomong, kamu tahu tidak, nama
latin bonsai yang ini?"
"Oh, pohon asem ini? Kalau tidak salah,
Tamaridus indica."
"Kalau yang ini?" uji saya lebih jauh, kalau
memang ia mahasiswa fakultas pertanian.
"Ini jenis Ficus, Pak. Ini sefamili dengan karet.
Tepatnya yang ini Ficus benyamina."
"Kok kamu kelihatan tidak tertarik?"
"Bukan itu soalnya, Pak saya pikir, ini kesenangan
orang yang sudah mapan seperti Bapak.
Tidak mungkin saya menggandrungi tanaman yang
membutuhkan perhatian besar dan halus ini dalam
keadaan liar seperti ini."
"Liar? Kamu merasa orang liar?"
"Nah, Bapak salah duga lagi. Bukan saya orang
liar, tetapi situasi perkuliahan, praktikum, kegiatan
kemahasiswaan, dan tambah lagi situasi sekarang
yang membuat mobilitas saya tinggi. Jadi, bolehlah
disebut liar, namun dalam pengertian
yang saya
sebutkan tadi."
Diam-diam saya merasa ditemani. Saya menawarkan
duduk berdua sambil minum kopi di
teras. Saya ingin tahu lebih jauh apa yang ada dalam
hati pemuda mirip gembel itu.
"Maaf, kalau disuguhi kopi begini, keinginan
merokok saya jadi muncul. Bapak keberatan?"
ujarnya.
"Inah, bawa asbak rokok ke sini," desak
saya kepada pembantu yang baru saja masuk
setelah menghidangkan dua cangkir kopi. "Nah,
itu tandanya saya tidak keberatan. Sekarang, coba
kamu ceritakan keinginan kamu terhadap kondisi
negara ini setelah pemilu nanti. Bapak mau tahu
langsung dari aktivis reformasi."
Darmon tersenyum miring sambil menghembuskan
asap rokoknya yang kelihatan mahal.
Lalu ia buka suara. "Saya jadi kikuk, Bapak perlakukan
saya seperti anak kecil terus."
"Kamu pikir begitu? rasanya kok ndak."
"Apa bedanya Bapak tanya saya begini 'Apa
cita-citamu, Mon?' Sama saja kan? Maksud saya,
pertanyaan Bapak itu terlalu umum."
"Mestinya saya tanya apa? Baik, begini. Menurut
kamu, Mon, bagaimana prospek perekonomian
bangsa Indonesia setelah pemilu?"
"Ini insting saya saja, Pak, ya. Menurut saya
kalau tidak terjadi perang karena tidak puas,
karena curang lagi misalnya, ekonomi kita bakal
merangkak pelan sekali. Butuh waktu tiga sampai
lima tahun. Kita baru bisa bangkit lagi setelah tujuh
tahun," ujarnya lancar.
Saya mulai kagum dengan keberaniannya,
kepolosannya, dan kelancarannya berbicara.
Selama ini tidak ada anak muda yang bicara dengan
gaya selancar dan sejujur dia, apalagi anak buah
di kantor. Tiba-tiba saya menginginkan
anak buah
saya seperti Darmon. Tidak perlu membungkukbungkuk
dan mengucapkan maaf berkali-kali,
padahal yang diterimanya adalah haknya sendiri.
Senja mulai merambat. Kami terlibat dalam
percakapan yang menarik. Bahkan, ketika Maya
pulang, mendorong pintu pagar, hampir-hampir
tidak menjadi perhatian benar bagi Darmon. Dia
hanya saling tersenyum, meski saya tahu, di belakang
saya mereka pasti akrab sekali. Justru Darmon pula
yang mengingatkan saya tentang senja.
"Pak, sudah senja. Terima kasih atas waktu
Bapak untuk saya. Saya pamit dulu."
"Bagaimana kalau Maghrib di sini saja?"
terlontar begitu saja dari mulut saya. Saya merasa
telanjur, jangan-jangan dia tidak seagama dengan
saya.
"Terima kasih, saya selalu mengusahakan shalat
Maghrib dan Isya di masjid. Assalamu’­alaikum."
Di meja makan, malam itu, saya mau tahu
reaksi Maya. Sedapatnya saya ingin tahu aspirasi
anak-anak agar tidak terlalu dalam jurang pemisah
antargenerasi. Dari bacaan-bacaan, sering orang
tua disalahkan karena tidak nyambung dengan
keinginan anak-anak. Saya tak mau menjadi orang
tua yang konyol. Oleh sebab itu, saya menanyai
Maya di hadapan mamanya dan adiknya, Pada, yang
kini sudah siswa SMA kelas satu.
"Kok, kamu tidak keluar lagi, Darmon ke sini
kan, mau ketemu kamu, Maya."
"Ih, Papa. Orang begitu saja dilayani," jawabnya.
"Jadi, dia bukan pacar kamu?"
"Amit-amit, Pa. Kalau yang begituan, di kampus
banyak, tuh."
"Maksud Papa, meski dia bukan pacar kamu,
kalau dia datang baik-baik ingin ketemu, tidak ada
salahnya ditemui sebentar. Papa tidak keberatan."
"Kan, sudah ada Papa yang melayani. Asyik lagi,
pakai ketawa-ketawa ngakak. Untuk Papa ketahui,
dia itu sekarang lebih banyak mangkal di markas
reformasi. Kuliah jarang dan nilai semesternya
anjlok semua. Orang seperti itu tidak punya masa
depan, lho, Pa."
"Apa dia pemusik rock?" tanya Papa.
"Tau. Orang lain fakultas, lagi pula, saya cuma
kenal waktu demo tempo hari," jawab Maya.
"Kenapa?"
"Rambutnya panjang segitu, mestinya, dia
ngerock. Zaman sekarang, rambut anak muda, kan,
kayak Papa ini, cepak."
"Mama dengar sekilas tadi, dia ngomong
politik tinggi sama Papa kamu di teras. Sekolah saja
berantakan, kok mau-maunya omong politik. Apa
dia itu bisa menyelesaikan sembako?"
"Wong, tampangnya serem, ya, Nya?" Inah ikut
bicara sambil menuangkan air ke gelas istri saya.
"Ya, kamu lihat waktu ngasih kopi tadi, ya?
Mama juga tidak sudi kalau pacar kamu kumal
begitu, Maya."
Saya cuma mengunyah makanan diam-diam
karena kalau mama anak-anak sudah buka bicara
larinya pasti ke sembako, hidup susah, makan gaji
tanpa tambahan. Ujung-ujungnya, akan sampai soal
saya, yang tidak pandai berinduk
semang sehingga
tak pernah kebagian memegang
proyek, padahal
sudah dua puluh tahun bekerja sebagai pegawai
negeri.
"Papamu ini memang sudah dari sononya
aneh-aneh," Rini, istri saya, sudah mulai seperti
yang saya duga.
"Memangnya, Papa aneh?"
"Mahasiswa gembel begitu saja diajak ngobrol
ngalor-ngidul. Akrab lagi. Kemaren ini, Sanip datang
menawarkan taktik untuk menggaet
proyek, eh,
malah disuruh pergi."
"Dia. Sanip itu, memang, biang kongkalikong
di kantor. Yang penting kantungnya penuh. Tidak
peduli itu bukan uang nenek moyangnya. Dia itu
sudah pernah kena peringatan. Untung bos kami
masih kasihan. Kalau tidak, dia itu diadili,"
jelas
saya.
"Makanya, pandai-pandai, agar kita bisa hidup
agak lumayan."
Saya cepat-cepat mencuci tangan, meski masih
tersisa nasi dan lauk di piring. Saya mau cepatcepat
ke teras, mendinginkan suhu badan di bulan
Februari yang panas, setelah hampir enam bulan
tidak diguyur hujan.
"Moneter, ya, moneter, orang-orang hidup
pada senang juga. Papa kalian? Jangankan memperbaiki
mobil, malah dijual. Sekarang, rasain, tiap
pagi berebut bus kota."
Saya merasa bersyukur, istri saya tukang
protes sejak dulu. Kalau tidak, mungkin saya sudah
tidak bergairah lagi bekerja. Saya tidak perlu
bersedih karena menurut saya, masih banyak orang
Indonesia yang hidupnya memalukan,
meskipun
berpendidikan lumayan.
Sebagai kepala subbagian, saya selalu datang
tepat waktu. Seperti biasa, selalu saja saya orang
pertama, itu biasa. Tetapi ketika lewat di meja
Sanip, saya jadi marah. Ternyata, surat edaran yang
saya suruh kirim atas nama bos masih bertumpuk
di mejanya. Begitu saya melihat batang hidungnya,
langsung saya tuntut.
"Hei, edaran itu belum juga kamu kirim?"
"Ya, ya, Pak. Pagi ini, saya suruh Mardambin
mengirimnya."
"Janji, ya?"
"Janji, Pak."
"Kamu sudah ngopi?"
"Sud…eh, belum Pak."
"Ke kantin, ayo, ikut saya."
"Terima kasih, Pak. Saya ikut!"
Saya mau tertawa, tetapi saya tahan. Tibatiba
saya ingin menggantinya dengan Darmon.
Dan, tiba-tiba pula, sewaktu minum kopi di kantin
saya katakan pada Sanip agar dia meniru vitalitas
kejujuran dan keberanian seperti Darmon.
"Darmon yang mana, Pak?"
Saya tertawa. Kali ini, tidak bisa saya tahan.
"Ada anak muda, mahasiswa, aktivis reformasi,
tukang demo dan kelihatan kumal, serta rambutnya
tak terurus, tetapi dia pintar."
Sanip memandang wajah saya, seperti ada
sesuatu yang hendak dikatakannya. Sanip menghirup
kopinya pelan-pelan, lalu membuang
pandang
jauh ke depan, menembus tembok kantor.
"Mengapa kamu, kok, sedih amat kelihatannya,
Nip?"
"Habis, Bapak menyindir saya."
"Kenapa? Kamu tersinggung, ya? Meski saya
atasan kamu, usia kita, kan, hampir sama. Kamu
jangan sungkan-sungkan berkata jujur seperti
Darmon yang saya kenal itu."
"Saya, memang, cuma tamat SMA, tidak
sarjana seperti Bapak. Tetapi saya ingin anak saya
jadi sarjana. Dia lulus UMPTN di fakultas pertanian.
Tetapi kini, saya tak sanggup membiayainya
lagi
hingga semester ini dia istirahat kuliah. Kasihan
dia!"
"Siapa anakmu?"
"Darmon!"
Sumber: Kumpulan cerpen Dua Tengkorak Kepala,
cerpen pilihan Kompas, 2000

Jumat, 13 Januari 2012

Sajak Transmigran II

dia selalu singkong
dan terus-menerus singkong
hari ini singkong
Tadi malam singkong
besok mungkin singkong
besoknya lagi juga singkong
di rumah sepotong singkong
di ladang seikat singkong
di pasar segerobak singkong
di rumah tetangga sepiring singkong
enam bulan lagi tetap singkong
setahun lagi tetap singkong
sepuluh tahun masih singkong
dua puluh tahun masih singkong
dan lima puluh tahun kemudian
transmigran beruban
sakit-sakitan
mati
lalu dikubur di ladang singkong
F. Rahardi

DOA Kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
dipintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
Chairil Anwar
Dikutip dari Deru Campur Debu

Kepada Peminta-minta

Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah.
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaduk-aduk telingaku
Baik,baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.

Bulan Kota Jakarta

Bulan telah pingsan
di atas kota Jakarta tapi tak seorang menatapnya!
O, getirnya kulit limau!
O, betapa lunglainya!
Bulan telah pingsan.
Mama,bulan telah pingsan.
Menusuk tikaman beracun
dari lampu-lampu kota Jakarta
dan gedung-gedung tak berdarah
berpaling dari bundanya.
Bulannya! Bulannya!
Jamur bundar kedinginan
bocah pucat tanpa mainan, pesta tanpa bunga.
O, kurindu napas gaib!
O, kurindu sihir mata langit!
Bulan merambat-rambat.
Mama, betapa sepi dan sendirinya!
Begitu mati napas tabuh-tabuhan
maka penari pejamkan mata-matanya
Bulan telah pingsan
di atas kota Jakarta
tapi tak seorang menatapnya.
Bulanku! Bulanku!
Tidurlah, sayang di hatiku!
WS. Rendra
Dikutip dari Empat Kumpulan Sajak

Dengan Kasih Sayang

Dengan kasih sayang
kita simpan bedil dan kelewang.
Punahlah gairah pada darah.
Jangan!
Jangan dibunuh para lintah darat ciumlah mesra anak
jadah tak berayah dan sumbatkan jarimu pada mulut
peletupan karna darah para bajak dan perompak akan
mudah mendidih oleh pelor.
Mereka bukan tapir atau badak hatinya pun berurusan
cinta kasih seperti jendela terbuka bagi angin sejuk!
Kita yang sering kehabisan cinta untuk mereka cuma
membenci yang nampak rompak.
Hati tak bisa berpelukan dengan hati mereka.
Terlampau terbatas pada lahiriah masing pihak.
Lahiriah yang terlalu banyak meminta!
Terhadap sajak yang paling utopis bacalah dengan
senyuman yang sabar.
Jangan dibenci kaum pembunuh.
Jangan dibiarkan anak bayi mati sendiri.
Kere-kere jangan mengemis lagi.
Dan terhadap penjahat yang paling laknat pandanglah
dari jendela hati yang bersih.

Selamat Tinggal

Karya Chairil Anwar
Aku berkaca
Ini muka penuh luka
Siapa punya?
Ku dengar seru menderu
—dalam hatiku?—
Apa hanya angin lalu?
Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta
Ah...!!
Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal...!!
Selamat tinggal ...!!
Sumber: www.tokohindonesia.com

Cintaku

Katakan padanya bahwa cintaku tak
diikat dunia
Katakan bahwa dunia pecah,
ambruk dan terbakar jika
menanggungnya
Dunia sibuk merajut jeratan-jeratan
Mempersulit diri dengan ikatan-ikatan
Dimuati manusia yang antre panjang
Memasuki sel-sel penjara
Katakan padanya bahwa kasih
sayangku
Tak terpanggul oleh ruang waktu
Katakan bahwa kasih sayangku
Membebaskannya hingga ke Tuhan
Ruang tata hidup, perkawinan,
kebudayaan dan
Sejarah, adalah gumpalan sepi,
Dendam dan kemalangan
Dan jika semesta waktu hendak
mengukur cintaku,
Katakan bahwa ia perlu berulangkali mati
Agar berulangkali hidup kembali
Karya Emha Ainun Nadjib
Sumber: Majalah Horison, 2002

Puisi WS Rendra - Doa di Jakarta

Tuhan yang Maha Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai,
fikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan.
Malam rebah dalam udara yang kotor.
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan.
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan,
terpenjara, tanpa jendela.
Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang bererti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.
Tuhan yang Maha Rahman,
ketika air mata menjadi gombal,
dan kata-kata menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke utara dan ke selatan -
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk wang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?
Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata.
Ibumu mempunyai hak yang sekiranya kamu mengetahui tentu itu besar sekali
Kebaikanmu yang banyak ini
Sungguh di sisi-Nya masih sedikit
Berapa banyak malam yang ia gunakan mengaduh karena menanggung bebanmu
Dalam pelayanannya ia menanggung rintih dan nafas panjang
Ketika melahirkan andai kamu mengetahui keletihan yang ditanggungnya
Dari balik sumbatan kerongkongannya hatinya terbang
Berapa banyak ia membasuh sakitmu dengan tangannya
Pangkuannya bagimu adalah sebuah ranjang
Sesuatu yang kamu keluhkan selalu ditebusnya dengan dirinya
Dari susunya keluarlah minuman yang sangat enak buatmu
Berapa kali ia lapar dan ia memberikan makanannya kepadamu
Dengan belas kasih dan kasih sayang saat kamu masih kecil
Aneh orang yang berakal tapi masih mengikuti hawa nafsunya
Aneh orang yang buta mata hatinya sementara matanya melihat
Wujudkan cintaimu dengan memberikan doamu yang setulusnya pada ibumu
Karena kamu sangat membutuhkan doanya padamu

Puisi WS Rendra - Doa Orang Lapar

Kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam
Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin
Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan
Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran
Allah !
kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin
Allah !
kami berlutut
mata kami adalah mata Mu
ini juga mulut Mu
ini juga hati Mu
dan ini juga perut Mu
perut Mu lapar, ya Allah
perut Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca
Allah !
betapa indahnya sepiring nasi panas
semangkuk sop dan segelas kopi hitam
Allah !
kelaparan adalah burung gagak
jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorga Mu

http://viruscerdaz.blogspot.com/2011/08/puisi-ws-rendra-doa-orang-lapar.html

Puisi WS Rendra - Nyanyian Angsa

Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya:
“Sudah dua minggu kamu berbaring.
Sakitmu makin menjadi.
Kamu tak lagi hasilkan uang.
Malahan kapadaku kamu berhutang.
Ini beaya melulu.
Aku tak kuat lagi.
Hari ini kamu harus pergi.”
(Malaikat penjaga Firdaus.
Wajahnya tegas dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Maka darahku terus beku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang sengsara.
Kurang cantik dan agak tua).
Jam dua-belas siang hari.
Matahari terik di tengah langit.
Tak ada angin. Tak mega.
Maria Zaitun ke luar rumah pelacuran.
Tanpa koper.
Tak ada lagi miliknya.
Teman-temannya membuang muka.
Sempoyongan ia berjalan.
Badannya demam.
Sipilis membakar tubuhnya.
Penuh borok di klangkang
di leher, di ketiak, dan di susunya.
Matanya merah. Bibirnya kering. Gusinya berdarah.
Sakit jantungnya kambuh pula.
Ia pergi kepada dokter.
Banyak pasien lebih dulu menunggu.
Ia duduk di antara mereka.
Tiba-tiba orang-orang menyingkir dan menutup hidung mereka.
Ia meledak marah
tapi buru-buru jururawat menariknya.
Ia diberi giliran lebih dulu
dan tak ada orang memprotesnya.
“Maria Zaitun,
utangmu sudah banyak padaku,” kata dokter.
“Ya,” jawabnya.
“Sekarang uangmu brapa?”
“Tak ada.”
Dokter geleng kepala dan menyuruhnya telanjang.
Ia kesakitan waktu membuka baju
sebab bajunya lekat di borok ketiaknya.
“Cukup,” kata dokter.
Dan ia tak jadi mriksa.
Lalu ia berbisik kepada jururawat:
“Kasih ia injeksi vitamin C.”
Dengan kaget jururawat berbisik kembali:
“Vitamin C?
Dokter, paling tidak ia perlu Salvarzan.”
“Untuk apa?
Ia tak bisa bayar.
Dan lagi sudah jelas ia hampir mati.
Kenapa mesti dikasih obat mahal
yang diimport dari luar negri?”
(Malaikat penjaga Firdaus.
Wajahnya iri dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku gemetar ketakutan.
Hilang rasa. Hilang pikirku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang takut dan celaka.)
Jam satu siang.
Matahari masih dipuncak.
Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu.
Dan aspal jalan yang jelek mutunya
lumer di bawah kakinya.
Ia berjalan menuju gereja.
Pintu gereja telah dikunci.
Karna kuatir akan pencuri.
Ia menuju pastoran dan menekan bel pintu.
Koster ke luar dan berkata:
“Kamu mau apa?
Pastor sedang makan siang.
Dan ini bukan jam bicara.”
“Maaf. Saya sakit. Ini perlu.”
Koster meneliti tubuhnya yang kotor dan berbau.
Lalu berkata:
“Asal tinggal di luar, kamu boleh tunggu.
Aku lihat apa pastor mau terima kamu.”
Lalu koster pergi menutup pintu.
Ia menunggu sambil blingsatan dan kepanasan.
Ada satu jam baru pastor datang kepadanya.
Setelah mengorek sisa makanan dari giginya
ia nyalakan crutu, lalu bertanya:
“Kamu perlu apa?”
Bau anggur dari mulutnya.
Selopnya dari kulit buaya.
Maria Zaitun menjawabnya:
“Mau mengaku dosa.”
“Tapi ini bukan jam bicara.
Ini waktu saya untuk berdo’a.”
“Saya mau mati.”
“Kamu sakit?”
“Ya. Saya kena rajasinga.”
Mendengar ini pastor mundur dua tindak.
Mukanya mungkret.
Akhirnya agak keder ia kembali bersuara:
“Apa kamu – mm – kupu-kupu malam?”
“Saya pelacur. Ya.”
“Santo Petrus! Tapi kamu Katolik!”
“Ya.”
“Santo Petrus!”
Tiga detik tanpa suara.
Matahari terus menyala.
Lalu pastor kembali bersuara:
“Kamu telah tergoda dosa.”
“Tidak tergoda. Tapi melulu berdosa.”
“Kamu telah terbujuk setan.”
“Tidak. Saya terdesak kemiskinan.
Dan gagal mencari kerja.”
“Santo Petrus!”
“Santo Petrus! Pater, dengarkan saya.
Saya tak butuh tahu asal usul dosa saya.
Yang nyata hidup saya sudah gagal.
Jiwa saya kalut.
Dan saya mau mati.
Sekarang saya takut sekali.
Saya perlu Tuhan atau apa saja
untuk menemani saya.”
Dan muka pastor menjadi merah padam.
Ia menuding Maria Zaitun.
“Kamu galak seperti macan betina.
Barangkali kamu akan gila.
Tapi tak akan mati.
Kamu tak perlu pastor.
Kamu perlu dokter jiwa.”
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya sombong dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku lesu tak berdaya.
Tak bisa nangis. Tak bisa bersuara.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang lapar dan dahaga.)
Jam tiga siang.
Matahari terus menyala.
Dan angin tetap tak ada.
Maria Zaitun bersijingkat
di atas jalan yang terbakar.
Tiba-tiba ketika nyebrang jalan
ia kepleset kotoran anjing.
Ia tak jatuh
tapi darah keluar dari borok di klangkangnya
dan meleleh ke kakinya.
Seperti sapi tengah melahirkan
ia berjalan sambil mengangkang.
Di dekat pasar ia berhenti.
Pandangnya berkunang-kunang.
Napasnya pendek-pendek. Ia merasa lapar.
Orang-orang pergi menghindar.
Lalu ia berjalan ke belakang satu retoran.
Dari tong sampah ia kumpulkan sisa makanan.
Kemudian ia bungkus hati-hati
dengan daun pisang.
Lalu berjalan menuju ke luar kota.
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Yang Mulya, dengarkanlah aku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur lemah, gemetar ketakutan.)
Jam empat siang.
Seperti siput ia berjalan.
Bungkusan sisa makanan masih di tangan
belum lagi dimakan.
Keringatnya bercucuran.
Rambutnya jadi tipis.
Mukanya kurus dan hijau
seperti jeruk yang kering.
Lalu jam lima.
Ia sampai di luar kota.
Jalan tak lagi beraspal
tapi debu melulu.
Ia memandang matahari
dan pelan berkata: “Bedebah.”
Sesudah berjalan satu kilo lagi
ia tinggalkan jalan raya
dan berbelok masuk sawah
berjalan di pematang.
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya tampan dan dengki
dengan pedang yang menyala
mengusirku pergi.
Dan dengan rasa jijik
ia tusukkan pedangnya perkasa
di antara kelangkangku.
Dengarkan, Yang Mulya.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang kalah.
Pelacur terhina).
Jam enam sore.
Maria Zaitun sampai ke kali.
Angin bertiup.
Matahari turun.
Haripun senja.
Dengan lega ia rebah di pinggir kali.
Ia basuh kaki, tangan, dan mukanya.
Lalu ia makan pelan-pelan.
Baru sedikit ia berhenti.
Badannya masih lemas
tapi nafsu makannya tak ada lagi.
Lalu ia minum air kali.
(Malaekat penjaga firdaus
tak kau rasakah bahwa senja telah tiba
angin turun dari gunung
dan hari merebahkan badannya?
Malaekat penjaga firdaus
dengan tegas mengusirku.
Bagai patung ia berdiri.
Dan pedangnya menyala.)
Jam tujuh. Dan malam tiba.
Serangga bersuiran.
Air kali terantuk batu-batu.
Pohon-pohon dan semak-semak di dua tepi kali nampak tenang
dan mengkilat di bawah sinar bulan.
Maria Zaitun tak takut lagi.
Ia teringat masa kanak-kanak dan remajanya.
Mandi di kali dengan ibunya.
Memanjat pohonan.
Dan memancing ikan dengan pacarnya.
Ia tak lagi merasa sepi.
Dan takutnya pergi.
Ia merasa bertemu sobat lama.
Tapi lalu ia pingin lebih jauh cerita tentang hidupnya.
Lantaran itu ia sadar lagi kegagalan hidupnya.
Ia jadi berduka.
Dan mengadu pada sobatnya
sembari menangis tersedu-sedu.
Ini tak baik buat penyakit jantungnya.
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki.
Ia tak mau mendengar jawabku.
Ia tak mau melihat mataku.
Sia-sia mencoba bicara padanya.
Dengan angkuh ia berdiri.
Dan pedangnya menyala.)
Waktu. Bulan. Pohonan. Kali.
Borok. Sipilis. Perempuan.
Bagai kaca
kali memantul cahaya gemilang.
Rumput ilalang berkilatan.
Bulan.
Seorang lelaki datang di seberang kali.
Ia berseru: “Maria Zaitun, engkaukah itu?”
“Ya,” jawab Maria Zaitun keheranan.
Lelaki itu menyeberang kali.
Ia tegap dan elok wajahnya.
Rambutnya ikal dan matanya lebar.
Maria Zaitun berdebar hatinya.
Ia seperti pernah kenal lelaki itu.
Entah di mana.
Yang terang tidak di ranjang.
Itu sayang. Sebab ia suka lelaki seperti dia.
“Jadi kita ketemu di sini,” kata lelaki itu.
Maria Zaitun tak tahu apa jawabnya.
Sedang sementara ia keheranan
lelaki itu membungkuk mencium mulutnya.
Ia merasa seperti minum air kelapa.
Belum pernah ia merasa ciuman seperti itu.
Lalu lelaki itu membuka kutangnya.
Ia tak berdaya dan memang suka.
Ia menyerah.
Dengan mata terpejam
ia merasa berlayar
ke samudra yang belum pernah dikenalnya.
Dan setelah selesai
ia berkata kasmaran:
“Semula kusangka hanya impian
bahwa hal ini bisa kualami.
Semula tak berani kuharapkan
bahwa lelaki tampan seperti kau
bakal lewat dalam hidupku.”
Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandang kepadanya.
Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar.
“Siapakah namamu?” Maria Zaitun bertanya.
“Mempelai,” jawabnya.
“Lihatlah. Engkau melucu.”
Dan sambil berkata begitu
Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu.
Tiba-tiba ia terhenti.
Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya.
Di lambung kiri.
Di dua tapak tangan.
Di dua tapak kaki.
Maria Zaitun pelan berkata:
“Aku tahu siapa kamu.”
Lalu menebak lelaki itu dengan pandang matanya.
Lelaki itu menganggukkan kepala: “Betul. Ya.”
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya jahat dan dengki
dengan pedang yang menyala
tak bisa apa-apa.
Dengan kaku ia beku.
Tak berani lagi menuding padaku.
Aku tak takut lagi.
Sepi dan duka telah sirna.
Sambil menari kumasuki taman firdaus
dan kumakan apel sepuasku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur dan pengantin adalah saya.)

Puisi WS Rendra - Rajawali

Sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri
Rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti
Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara
Rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya
Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana
Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah

PUISI KEHIDUPAN

Hari hari lewat, pelan tapi pasti
Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru
Untuk sisa jatah umurku yang baru
Daun gugur satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Umurku bertambah satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Tapi… coba aku tengok kebelakang
Ternyata aku masih banyak berhutang
Ya, berhutang pada diriku
Karena ibadahku masih pas-pasan
Kuraba dahiku
Astagfirullah, sujudku masih jauh dari khusyuk
Kutimbang keinginanku….
Hmm… masih lebih besar duniawiku
Ya Allah
Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Akankah aku masih merasakan rasa ini pada tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Masihkah aku diberi kesempatan?
Ya Allah….
Tetes airmataku adalah tanda kelemahanku
Rasa sedih yang mendalam adalah penyesalanku
Astagfirullah…
Jika Engkau ijinkan hamba bertemu tahun depan
Ijinkan hambaMU ini, mulai hari ini lebih khusyuk dalam ibadah…
Timbangan dunia dan akhirat hamba seimbang…
Sehingga hamba bisa sempurna sebagai khalifahMu…
Hamba sangat ingin melihat wajahMu di sana…
Hamba sangat ingin melihat senyumMu di sana…
Ya Allah,
Ijikanlah

DERAI DERAI CEMARA

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

puisi 2

kawan.
sisa hujan kemarin, masih tersisa dinampan.
bersama hati, tergores sebuah senapan.

bagaimana tidak, kawan.
kau inapkan dalam hati sebuah snyuman.
dan kau bilang takkan hilang, walau sekerjapan.

tetapi mengapa, kawan.
dalam lingkup sendiri, kau tinggalkan.
asa debu hitam, durja sebuah senyuman.

izankan aku, kawan.
tuk kecup kening, tanda perpisahan.
tuk hapus duka karena sebuah senapan.

biarkanlah aku, kawan.
mengabadikan kisah pada sebuah nisan.
tuk abdikan crita, tak terlupakan.
http://www.facebook.com/puitis

puisi3

kudendangakn lagu tanpa nada.
sbg tanda rautan kasih tanpa cinta.
kau tampakan muka suka.
walau durja yang kau simpan.

setitik asa, jangan kau sembunyikan.
padaku yang kau anggap teman.
tuangkan lah dg gamblang.
seumpama selang yg pernah kau telan.

curahkanlah rajut cinta tanpa rasa.
pada tadah yang kau siapkan sudah.
memang, tak jauh beda.
antara kita, pendapat tentang cinta adalah sama.

puisi 1

kasih.
terdiam, tersenyum ku meratapi.
kisah kita yg lama usai.
dan kini kau dapati pengganti.
padahal hati inginkan kau kembali.

kasih.
rela hati, kau simpan aku dalam lemari.
walau pertamanya tak sudi.
dg durja, kulangkahkan kaki.

kasih.
masa itu ku tersakiti.
hingga kini kuterbaring dalam sepi.
hanya karna kau simpan dalam lemari.

kasih.
kini kau datang lagi.
terbang dg sayap pelangi.
membawa juta angan dalam mimpi.
dan kuharap, pertemuan dibanyak hari.
seperti lalu, kini dan nanti.
http://www.facebook.com/puitis