Sabtu, 14 Januari 2012

Oleng Karya Wisran Hadi

Pagi itu Guru Kito berdiri di pinggir lapang
sambil melecut-lecutkan lidi ke kakinya sendiri.
Itulah tanda bahwa dia marah karena ada murid
yang melanggar peraturan perguruan. Muridmurid
pun sudah tahu akan tanda itu. Mereka
harus berkumpul dan tentulah akan ada
hukuman yang dijatuhkan. Setiap murid punya
dugaan bermacam-macam ter hadap hukuman
atau siapa yang akan dihukum. Mungkin saja
Guru Kito akan menjatuhkan hukuman kepada
Kaje, karena kemarin sore tidak masuk dalam
pelajaran bahasa Inggris. Mungkin juga Oon dan
Kawe karena keduanya kedapatan merokok di
belakang asrama. Bisa jadi juga Ismet, karena
tidak ikut bersembahyang kemarin. Berbagai
kemungkinan bisa saja terjadi.
Setelah lonceng dipukul 5 kali oleh Ivan
yang menjadi piket penjaga waktu, semua
murid bergegas datang ke lapangan, tempat
biasanya mereka dikumpulkan menerima pe rintah,
pengumuman-pengumuman, tegur an, hukuman,
serta berita-berita gembira dan ber bagai kelucuan
yang terjadi. Lapangan itu merupakan
tempat bagi persoalan bermuara.
"Malapetaka," bisik Kawe kepada Oon
sambil berjalan bergegas menuruni jalan di
pinggir kolam.
"Ya, bagaimana lagi. Memang salah kita.
Kita harus menerima hukuman." jawab Oon
pasrah.
"Apa Daroji benar-benar telah me nguburkan
bulunya?" tanya Kawe.
"Entahlah," jawab Oon menggelengkan
kepala.
"Mungkin Guru Kito menjumpai bulunya
kemarin sore. Itulah sebab kita dikumpulkan
pagi ini," kata Kawe menyesal.
"Celaka, mana Daroji?" tanya Oon.
"Itu. Lihat, dia pura-pura tidak bersalah
saja dan berlari-lari kecil karena merasa dilihat
Guru Kito. Ambil muka. Nanti dapat muka
beruk, baru tahu dia." jawab Kawe sambil
menunjuk ke arah Daroji yang bergegas menaiki
tebing menuju lapangan.
Semua murid sekarang sudah ber kumpul.
Mereka berbaris dan diam me nunggu apa yang
akan terjadi. Guru-guru pun sudah berdiri
dengan tertib. Guru Kito memerhatikan setiap
murid lalu berjalan ke depan barisan mereka
sambil tersenyum.
"Kalian pernah mendengar cerita Cindua
Mato?" tanya Guru Kito dengan ramah sekali.
"Sebuah cerita rakyat Minangkabau yang
sangat terkenal. Kisah seorang raja perempuan
yang mem punyai binatang piaraan yang sangat
keramat?" tanyanya.
"Belum Guru," jawab beberapa murid
tidak serempak.
"O, pantas kalian tidak tahu apa itu
kinantan. Kinantan adalah nama seekor ayam
jantan ke ramat piaraan raja perem pu an itu. Di
per guruan kita juga banyak kinantan. Malam
kemarin salah seekor kinantan terbang entah
ke mana. Mungkin terbang dengan ke kedai
di seberang sana, kemudian berganti dengan
sebungkus rokok atau mungkin menyuruk ke
dalam perut manusia," lanjut Guru Kito. Beberapa
murid tertawa.
"Ayam jantan putih itu hilang, Guru?" tanya
Daroji lantang.
Semua memandang Daroji. Daroji dengan
tenang tersenyum membalas pandangan kawankawannya.
Guru Kito memandang sesaat kepada
"Pahit? Aneh juga ya. Goreng ayam terasa
pahit. Apa waktu itu kamu tidak sakit perut
Daroji?" tanya Guru Kito lagi. Semua murid
meledak tawanya. Daroji pucat pasi karena
Guru Kito langsung menudingnya.
"Kalau saya tanya siapa yang telah mencuri
kinantan itu dan meng goreng nya tengah malam,
pasti semuanya tidak ada yang mengaku.
Ya, kan? Sebab, kalau pencuri mau mengaku,
pasti semua pen jara yang ada di dunia ini akan
penuh dengan pencuri. Jadi, saya tidak akan menanya
kan siapa pencuri nya," kata Guru Kito.
"Saya meng umum kan, jika sampai besok pagi
tidak seorang pun yang mau mengaku, siapa
yang mencuri kinantan itu, semuanya dihukum.
Karena kalian semua telah berse pakat dengan
pencuri untuk tidak mengaku, hukumannya
adalah me ngerja kan sawah kita di lereng bukit
sebelah sana sampai dengan selesai ditanami
benih," kata Guru Kito sambil menunjuk ke
arah persawahan. Semua murid bergumam dan
ngeri, karena mereka tahu sawah itu banyak
lintahnya.
Setelah apel pagi itu dibubarkan, semua
murid pergi ke kelas. Sepanjang jalan mereka
saling berbisik dan saling tuduh. Mereka yang
terlibat dalam pencurian mengadakan diskusi
kilat di bawah batang durian. Membicarakan
apakah mereka akan mengaku bersama-sama
atau menunjuk salah seorang saja sebagai wakil
mereka. Akhirnya mereka sepakat tidak menga
ku walau apapun hukum an yang akan dijatuh
kan. Namun malamnya, Sasmita diam-diam
menemui Guru Kito dan memberitahu bahwa
yang mencuri Kinantan itu adalah Kawe, Oon
bersama kawan-kawannya yang lain, sedangkan
yang men jadi otak pen curiannya Daroji.
Besoknya Guru Kito kembali me ngumpul -
kan murid-murid seperti kemarin. Setelah
semuanya lengkap hadir, Guru Kito maju ke
tengah dengan berang.
"Sekarang saya sudah tahu yang men curi
Kinantan itu. Para pencuri dan pemakan ayam
curian akan dihukum berat," kata Guru Kito
dengan keras. Murid-murid heboh dan saling
ber pandangan.
Daroji.
"Bolehkah seekor ayam dimakan?" tanya
Guru Kito.
"Tentu saja boleh, Guru." jawab muridmurid.
"Enakkah kalau daging kinantan digoreng
tengah malam?" tanya Guru Kito lagi, muridmurid
tertawa.
"Enak sekali, Guru," jawab murid sambil
memandang ke arah Daroji. Daroji seakan tidak
memerhatikan mereka.
"Kalau ayam itu ayam curian, apakah juga
enak dimakan?"
"Pahit Guru," jawab Daroji tiba-tiba. Semua
menoleh kepada Daroji.
"Sasmita, ke depan." kata Guru Kito se telah
heboh murid-murid mereda. Semua diam.
Sasmita maju ke depan barisan.
"Kau tahu kenapa dipanggil ke depan?"
"Tidak, Guru Kito."
"Berbalik. Lihat teman-temanmu." Sasmita
patuh. Kini dia berdiri menghadap kawankawannya
dan membelakangi Guru Kito. Semua
murid berbisik dan gelisah.
"Guru Kito. Boleh saya bertanya?" Kawe
bertanya.
"Apa?" balas Guru Kito.
"Kenapa Sasmita yang dihukum. Apakah
memang terbukti dia mencuri?"
"Bagus, jadi kamu membela temanmu ini,
ya?"
"Ya, Guru. Guru Kito harus me lakukan
pe nye lidikan lebih dulu, siapa sebenarnya yang
bersalah."
"Apa kamu mau membela seorang pengkhianat?"
Murid-murid terkejut dan saling berhanya
mau me nyelamatkan dirinya sendiri, dia
akan lebih berbahaya daripada seorang pencuri
ayam. Jika ia jadi pemimpin bangsa ini kelak,
dia juga akan mudah mengkhianati bangsanya
untuk kepentingan dan keselamatan dirinya
sendiri. Jika ia jadi imam kelak, dia akan mudah
pula mengkhianati jemaahnya. Jadi, paham kalian
kenapa seorang pengkhianat harus dihu kum
berat?"
"Paham Guru," jawab murid-murid lesu.
Menggigil tubuh Sasmita men dengar nya.
Murid-murid yang lain menundukkan muka, sedih,
karena Sasmita yang selama ini mereka kenal
sebagai anak yang rajin dan pandai kini dituduh
sebagai peng khianat hanya karena seekor ayam.
Emridha, guru muda yang baru sebulan
mengajar di perguruan itu ge lisah. Dia tidak
setuju dengan putusan Guru Kito, tapi tidak
berani memrotes apalagi di tengah muridmurid
dan guru-guru yang lain. Sebagai guru
baru, Emridha tidak merasa pantas untuk
memrotes begitu saja.
Sasmita harus melaksanakan hukum an.
Dengan berat hati disandang nya cangkul me nu ju
sawah di lereng bukit itu. Dia harus mencangkul
seminggu lamanya. Namun, ketika Sasmita menuju
sawah. Emridha memberani kan diri juga me nemui
Guru Kito.
"Bagaimana Emridha, ada yang mau ditanyakan?"
tanya Guru Kito tersenyum, seakan
tahu yang hendak dikatakan Emridha. Emridha
mengangguk. "Kau tidak sampai hati menerima
hukuman yang begitu berat buat Sasmita?"
tanya Guru Kito lagi. Emridha mengganguk. "Itu
belum apa-apa Emridha. Orang pandai kalau
berkhianat lebih buruk akibatnya daripada
seorang pencuri. Perguruan kita ini hancur
karena pengkhianatan. Negara kita porak
poranda karena pemimpin-pemimpinnya berkhianat
kepada rakyatnya sendiri."
Emridha mengangguk dan terus meng ikuti
Guru Kito. Setelah sampai di bawah pohon
mahoni yang rimbun, Guru Kito me lanjutkan
pembicara annya sambil melihat seorang guru
lain bersama beberapa murid mulai menyam bit
rumput di bawah kolam.
bisik. Mereka terkejut karena tidak tahu apa
maksud Guru Kito.
"Sasmita malam tadi datang ke tempatku
dan mengadukan siapa yang mencuri kinantan
itu."
"Kurang ajar." teriak murid-murid.
"Nah, kalian saja benci kalau seorang
temanmu berkhianat. Begitu juga Guru, begitu
juga orang lain, begitu juga bangsa kita. Betapa
pun pandai dan pintarnya seseorang, tapi jika
di dalam dirinya sudah bersarang sifat khianat,
"Lihat mereka, Emridha. Begitu cara kita
di sini mengajarkan agama. Ambil sabit, pangkas
rumput, bersihkan alam sekeliling. Membersihkan
ling kungan adalah ajaran agama. Dalam
ajaran agama kita tidak perlu banyak bicara,
tetapi harus banyak mem berikan contoh."
"Guru Kito." kata Emridha mem beranikan
diri. “Perguruan ini kan sebuah per guruan
agama, sebagaimana juga pondok pesantren.
perguruan ini kan bukan perguruan politik.”
"Itulah bedanya perguruan di sini dengan
pondok pesantren yang pernah kau masuki.
Di pondok pesantren orang belajar agama, di
per guruan ini kita membentuk pribadi muslim.
Buat apa pengetahuan agama segudang, tapi
tidak punya sikap dan kepribadian sebagai
seorang yang ber agama? Kau lihat keadaan
masyarakat kita saat ini. Semua orang mengaku
dirinya orang-orang beragama, tapi kelakuan
dan per buatannya tidak mencer minkan bahwa
mereka orang-orang beragama."
"Tapi apakah Sasmita juga mengerti
dengan semua yang Guru Kito katakan itu?"
"Dia harus dapat memahami semua,
murid harus memahami. Begitu juga guru-guru
yang lainnya."
Kuala Lumpur, September 2001
Dikutip dari Majalah Horison, November 2003

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar